Posted in Cerpen, Sajak

Catatan Andi

Kisah ini bermula dari sebuah Desa. Penuh dengan keindahan dan senandung dikala senja, memiliki banyak arti walau tak bisa kupahami. Perkenalkan namaku adalah andi, pemuda lemah yang pernah mengejar mimpi. Walau perjalanan itu tak pernah mudah, sampai saat ini aku tetap seorang pemimpi.

Aku ingat saat dikota, masih polos dan tak punya wajah. Saat itu aku belum tau siapa-siapa, ingin sekali aku mengenal sebuah cinta. Sebagai orang desa yang pindah ke kota, aku selalu berlaku ramah. Entah mengapa saat itu sulit sekali untukku marah bahkan untuk berkata-kata. Bagiku semua itu sia-sia, karena memang sifatku yang selalu mengalah

Hari-hari pertama ku jalani di kota. Tentu saja aku baru mengenal dunia kerja. Walau aku polos dan tak berwawasan, aku maju walau tau akan ditendang. Sebenarnya bingung saat memulai bekerja tapi untung saja aku punya kenalan di kota. Namanya adalah Aji, dia ini senior ku dalam bekerja. Aji selalu memakai kacamata dengan baju berwarna manja. Seperti orang pintar yang bekerja dikota, Aji adalah petarung yang tak pernah lelah.

Aji pernah berkata “bekerja dikota bagaikan tinggal disarang buaya,”. Tentu saja aku bertanya “kenapa bilang sarang buaya?,”. Dia hanya menjawab “bahwa akulah mangsa sang Buaya,”. Waduh sungguh naas jika benar, karena aku tak mau diterkam Buaya. Jika memang aku mangsanya lebih baik aku menjadi Singa, setidaknya aku terlihat lebih perkasa.

Lama-kelamaan tinggal dikota membuat aku sedikit rindu akan suasana desa yang selalu menunggu. Tapi sudahlah tak akan mudah kembali ke Desa. Perjalan ku kekota bukan tanpa tujuan. Aku kesini untuk menjadi seorang penyanyi, yang terus-menerus di cintai. Suaraku ini sedikit merdu, jika ada yang mendengar rasanya bagai memakan kaldu, akan membuat mu tersipu-sipu.

Ternyata kenyataan tak semudah yang aku kira. Suaraku tak pernah sampai ditelinga siapapun. Ekonomilah masalah utama, karna aku membutuhkan uang untuk membayar biaya. Terkadang aku berpikir sudah banyak yang kubangun agar mimpi ini terjadi. Tapi kenapa tuhan tetap menjadikan ku seorang pekerja, ah rasanya aku akan gila.

Untung saja aku mengenal dia, yah gadis cantik bernama Bunga. Memiliki hidung mancung dan suara manja ditambah dengan kulit mulus yang membuatku tergila-gila. Waduh, rasanya sudah tak tahan saat melihat dirinya. Ingin sekali ku dekap dia dengan manja. andai dia milikiku apakah aku akan melupakan segalanya?

Bunga pernah berkata “bahwa menikah itu bukanlah tujuan dia,”. Ternyata dia memiliki banyak mimpi dan kata. Ingin sekali ku dengar semua ceritanya, tapi suara manjanya berhenti setiap aku bertanya. Maklumlah aku ini pria desa, berambut klimis tapi tak punya dana. Andaikan saja punya dana tentu aku akan belajar mencinta. Tapi sudahlah, biar ku buang saja rasa-rasa yang didada karna aku bukan seorang pecinta.

Ini sudah 3 bulan sejak aku bekerja, selalu ku perhatikan Aji dan Bunga. Saat melihat mereka, membuatku bertanya-tanya.

“Kenapa mereka sangat rela bekerja?,”

“Apakah mereka terjerat dalam mimpinya atau dia sudah membuangnya dan memilih untuk bekerja?”

Hidup memang selalu seperti itu, percis yang dibilang tetangga bahwa Tak akan mudah mengerti kehidupan Kota. Dari pada terus begini, lebih baik aku bertanya saja?

Akhirnya kuberanikan untuk bertanya kepada Aji, karna jika dengan bunga. bisa-bisa aku tambah cinta Tapi…

“Kak Aji, ….,”

“Kenapa ndi,?”

“Punya gak kontak kak Bunga,?”

“Waduh, ndi-ndi bisa aja, nih catat baik-baik, 0857XX983XX93”

“Makasih nih mas aji,”

Akhinya dapat juga nomor Bunga, aku langsung pergi meninggalkan kak Aji. Sungguh senang rasanya, saat aku mendapat kontak Bunga. Yah, tak apalah aku bertambah cinta, toh dia gadis baik dan manja. Sungguh aku suka, mudah-mudahan tuhan akan mempermudah.

Sejak saat itu, aku mulai menghubungi Bunga. Perlahan muncul sebuah percakapan diantara kita berdua. Walau awalnya sedikit memaksa akhirnya Bunga tidak melihatku lagi dengan satu mata. Akhirnya kupaksa bunga untuk bercerita tentang kehidupanya dan juga mimpinya. Saat itu aku mengirim pesan padanya

“Bunga, aku punya mimpi menjadi seorang penyanyi, kamu pernah gak punya mimpi,?”

Bunga pun membalas pesanku, dia bercerita bahwa dulu dia ingin menjadi pengusaha. Bahkan dia pernah mencoba membuat sebuah toko kue di pinggir jalan raya, berjuang untuk mempertahankan mimpi-mimpinya. Tapi sayang usahanya tak berbuah, hanya cicilanlah yang tersisa untuk Bunga. kini Bunga terpaksan harus bekerja, melupakan impiannya dan membuat ku merasa iba.

Membaca pesan bunga, membuatku memikirkan 3 hal.

“Apakah ada arti dalam mengejar sebuah mimpi?,”.

“Apakah setiap mimpi ini harus terjadi?,”.

“Mimpiku ini menjadi penyanyi, seorang publik figur yang disukai, mengeluarkan suara yang harus kalian puji,”

Memang saat kuliat-liat sedikit sekali orang dewasa yang mempunyai mimpi. Kebanyakan sudah di serahkan kepada sang ilahi. Dengan alasan sudah tak ada waktu untuk bermimpi, apalagi lagi dengan kebutuhan yang terus-menerus harus di beli. Orang-orang dewasa itu pun lupa akan mimpinya. Sudah lah lebih baik kutulis sedikit puisi karena aku masih ingin bermimpi.

Adakah arti dari sebuah mimpi?

Yang kukejar walau tak pasti

Kulihat mereka menari-nari

Menertawaiku yang masih bermimpi

Mungkin kah ini hanya ilusi

Yang tersirat terbagi-bagi

Belum lelah aku berlari

kenapa kalian ingin aku berhenti

Sudahlah jangan bicara mimpi

karna tak akan kuilhami

Muak sudah menunggu pagi

Kuharap Bunga ada disini

Catatan ini akan menjadi saksi

Sebuah tulisan yang tak kau pahami

Biar Kutaruh Catatan ku disini

Berharap kalian tak akan mengerti

Arti aku yang mencntai mimpi

Jakarta, 25 Desember 2017

Advertisements
Posted in Sajak

GILA

Gelap itu kembali datang

Lagi-lagi menunggu fajar

Percis seperti yang kau bilang

Aku memang orang tak wajar

 

Kau  bilang aku ini gila

Sambil tertawa kau pun terlupa

Sungguh hebat dan luar biasa

Apakah pikiran mu ini nyata

 

Maaf-maaf, aku bercanda

Janganlah kau marah padaku

Bukannya kau yang bilang aku tak tau

Jadi ku biarkan saja engkau menerka

 

Kenapa kau tetap menerka-nerka

Aku ini tidak mengerti apa-apa

Buat apa kau mencari  makna

Jangan-jangan kau itu yang sudah gila

 

Hahahahaha…

Kenapa kau jadi marah-marah

Bukan pikir mu aku ini gila

Apakah kau jadi sedikit lelah

 

Sudahlah, aku ingin bermain saja

Jika tidak nanti kau makin merana

Kulihat lagi engkau asik menerka

Apakah perlu ku tambah  tanda tanya

 

Sudah -sudah , jangan  menerka-nerka

Padahal sudah kubiarkan kau membaca

Tapi kau pun tak paham juga

Yang kulakukan itu hanya sebuah irama

 

Dasar orang Gila!!

Padahal wajahmu itu lebih putus asa

Seakan-akan semua itu akhir dunia

Memang sulit karna kau tak gila

Hahahahaha…

 

Kau mau tidak menjadi gila!

Mudah kok, kau hanya harus tertawa

Kulihat-lihat kau kurang bahagia

Kau terlalu serius, aku ini gila!

 

Hahahaha, Asik juga menjadi gila

Membuat mu terlihat tak berdaya

kenapa kau tidak bergabung saja

Apa kau lupa  cara tertawa?

Hahahahaha..

Dasar gila!!

24 Desember 2017

 

 

 

 

 

Posted in Cerpen

Bayang-Bayang

Kulihat mereka berdiri disana seperti biasa

Bayang-bayang itu seakan menatapku,

Seakan-akan mereka tau arti dari mataku

Menatapnya seakan tak pernah melihatnya

Tik.. Tik.. Tik..

Suara rintikan terdengar merdu di telinga Roni, sambil duduk ditemani sekotak biskuit kesukaanya Roni melamun dalam pikirannya. Hujan memang seperti itu membawa kenangan dan perjalanan melintas di pikiran kita. Seakan-akan hujan itu datang untuk mengingatkan, tentang arti dari diri kita dan arti dari setiap langkah yang kita ambil.

Roni mahasiswa semester akhir, yang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. melihat teman-temannya yang sudah bekerja lewat sosial media, sambil tersenyum dan termenung roni menggeser-geser hpnya. selesai melihat media sosial biasanya Roni akan menghubungi temannya dia adalah Anto biasa dipanggil Cerpy.

Cerpy adalah seorang mahasiswa semester 6, dengan ciri rambut klimis di sertai celana jeans ketat. Cerpy telah menjadi Playboy di dalam Kampus berbeda dengan Roni yang memiliki rambut keriting berantakan dan mata yang selalu sayu, Roni tidak menjelma sebagai apapun. walaupun kedua orang ini berbeda umur mereka berdua berteman dengan baik. pagi itu seperti biasa Roni menelpon Cerpy.

“Cerp dimana? kekampus gak,?”.

“Gak, lah ron gua dirumah aja. Lagian ngapain sih kekampus Ron?,”

“Daftar ulang lah Cerp!,”

“Walah lupa-lupa tungguin yak”

“Hadeeuh,”


Kampus

“Waduh Si Cerpy Kemana!,”

Resah Roni saat menunggu Cerpy yang tak kunjung datang, apalagi Roni tidak tau bagaimana cara melakukan pendaftaran ulang dikampus. Entah sudah berapa batang Roni membakar batang-batang rokok tersebut tidak seperti biasanya Cerpy terlambat. Menurut Roni, Cerpy termasuk orang rajin yang kalau masalah daftar-mendaftar semester.

Menunggu dan menunggu membuat Roni terdiam dan termenung, angan-angannya terbang melayang memikirkan dirinya saat pertama kali masuk ke kampus tercinta ini. Saat itu Roni sangatlah rajin menjalani hari-hari kuliahnya sampai dia mengenal rental PS4 yang membuatnya terbuai untuk menghabis-habiskan waktu kehidupannya di masa-masa kuliah. Roni pun memejamkan matanya sambil mengenang hal yang bisa dikenangnya, sampai tiba-tiba Cerpy muncul membuat matanya terbuka

“Hai Ron,”

“Waduh Cerp, dari mana aja.?”

“Tadi dijalan Macet Ron, ayuk kita daftar aja Ron,”

“Et, Buru-buru amat Cerp,”

“Udah, ayuk,”

Mereka berdua berjalan bersampingan pergi menuju tempat pusat administrasi, disana Roni mengambil kartu pendaftaran semester. Roni mulai mengisi lembar tersebut dan menyelesaikan administrasinya dengan bantuan Cerpy. Setelah selesai hati Roni Terasa lega, bagi Roni telah menyelesaikan semua administrasi tersebutlah yang terpenting. Karena, hal ini merupakan suatu tradisi dan persyaratan agar dirinya tetap menjadi mahasiswa abadi.

“Eh Cerp lu gak ngisi,”

“Nanti aja Ron, lu abis ini mau kemana Ron?,”

“Kenapa Cerp emangnya,”?

“Gua mau minta tolong, anterin ron ke jalan opson motor gua ketinggalan disana.”

“Waduh, ada-ada aja motor ditinggal disana,”

“Iya, Maaf Ron,”

Roni melihat Cerpy, wajahnya terlihat pucat mungkin dia sedikit kelelahan, entah ada perasaan aneh semenjak Roni bertemu Cerpy.

“Ayok, sini gua anter,”

Mobil Roni

Didalam perjalanan mereka berdua hanya terdiam dan mendengarkan lagu-lagu galau kesukaaan Roni. Yang menurut Cerpy lagu-lagu galau ini tidak baik bagi Roni karena menurutnya lagu galau hanya melemahkan laki-laki jika berhadapan dengan wanita.

“Cerp lu diem aja gagu lo, hahaha,”

“Gpp Ron, semester depan lu masuk ngak,”

“Pengennya sih masuk cuma gak tau deh, gua bingung sih kalo nanti gua lulus. Paling sama aja Cerp, ujung-ujungnya gabut. mending gua kuliah lah masi bisa main ama lu ngeceng-ngecengin cewe-cewe,”

“Tapi sampai kapan ron? hidup ini bentar banget Ron, jangan disia-siain waktu. Suatu saat kita nanti harus mempertanggung jawabkan hidup ini Ron. Cepetan lu selesaiin kuliah ini biar keluarga lu seneng dan gak perlu lagi gua bantuin lu isi administrasi,”.

“Iya Cerp, gua juga dulu semangat kok kuliah Masuk terus. Tapi cuma gara-gara main game, kuliah gua berantakan di tambah lagi tampang gua yang gak bersahabat,”

“Kenapa emang Ron?,”

“Yah berawal dari situ Cerp, gua ngerasa mereka menjudge gua, seakan -akan mereka tau semuanya. Bilang gua males lah, Bodohlah dan jarang banget yang mau sekelompok gua. Apakah itu hal yang harus banget mereka lakukan? gua pernah denger kok diomongin mereka. Apakah mereka pantas Cerp menjudge seseorang, memang mereka siapa?,”.

“Pokoknya gua gak tahan Cerp, sama cara mereka memperlakukan seseorang,”

Perkataan Roni membuat keheningan diantara mereka berdua, ditambah lagi macet panjang menuju jalan Olson. Sambil ditemani oleh lagu-lagu galau milik Roni. Roni mencoba beberapa kali menghidupkan suasana ini dengan berbicara tak jelas tapi respon Cerpy hanya datar seakan memikirkan sesuatu.

“Udah Mau sampai Cerp,”

“Ya sampai sini aja Ron,”

“”Emang Motor lu dimana Cerp,”

“Ron, Makasih udah nganter dan makasih atas semua pertemanan ini, biarpun dunia selalu menjudge dan kebanyakan memihak kepada mayoritas sebagai acuan kebenaran, jangan pernah menyerah dengan dunia fana ini.”

“Ron aku pergi dulu sampaikan salam ku,”

Roni menoleh ke arah Cerpy, di lihat mukanya semakin pucat dan terlihat air mata di pipi Cerpy. Cerpy menoleh dan cairan merah pun keluar dari kepala Cerpy.

“Cerp, Cerp lu kenapa,”. Teriak Roni kepanikan

Belum sempat melanjutkan perkataannya Cerpy berubah menjadi bayang-bayang kabur dan menghilang. Roni panik minta ampun, mencoba menelpon Cerpy tapi tidak ada yang menjawab panggilan. kepanikan semakin melanda Roni, Dilihatnya dari kejauhan terdapat kerumunan disana. Roni menjalankan mobilnya pelan-pelan. Dalam kondisi kebingungan dilihatnya motor Cerpy di pinggir jalan bersama motor-motor lainya yang berserakan. Di lihat juga tubuh-tubuh tertidur ditutupi dengan koran-koran dan kain kain putih.

Roni menghentikan mobilnya seketika turun mencoba melihat, dan mencari Cerpy yang menghilang dari mobilnya. dia menerobos kerumunan-kerumunan tersebut dilihatnya tubuh seseorang yang ditutupi koran-koran tersebut, dilihatnya juga sepatu Cerpy yang tergeletak. Roni panik, bulu kuduknya berdiri, mukanya tiba-tiba seperti mengeram, dia keluar dari kerumunan itu, masuk kedalam mobilnya. Dilihat kembali kerumunan itu, dia menangis tersedu-sedu dan tak mengerti arti semua ini.

Roni Melihat Bayang-bayang itu berdiri

Mata Roni saling bertatapan dengan bayang-bayang itu

Dia melihat Cerpy yang menunduk

Menangis memalingkan wajahnya dari Roni

Ketakutan Pun melanda, membangkitkan bulu-bulu Roni

Roni pun memalingkan Wajahnya

Seakan-akan Cerpy tak pernah ada.

Jakarta, 22 desember 2017

Posted in Cerita-cerita

Langkah-langkah

Langkah-langkah kecil

Langkah-langkah besar

Setiap orang memiliki pilihan dalam melangkah

Dan mereka bebas menentukan

Karna tidak ada langkah yang sama

Selalu ada  perbedaan

Dalam arti dan juga makna…

Kebanyakan seseorang melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit dengan langkah kecilnya. Langkah kecil itu biasanya hanya dimiliki oleh orang-orang kalangan biasa yang hanya bisa berjalan sedikit demi sedikit untuk mencapai tujuannya, jadi jelas lah kebanyakan orang mempunyai langkah kecil. Langkah kecil sangatlah berbeda dengan langkah besar, karna langkah besar itu istemewa, mereka tidak harus berjalan sedikit-demi sedikit seperti seekor siput.

Sebagai pemilik langkah kecil yang terkadang terlewatkan dan terinjak oleh langkah besar, aku diharuskan memiliki rasa sabar yang sangat-sangat tinggi. Apalagi jika kulihat mereka berjalan dengan jauh hanya dengan 1-2 kali melangkah, aku merasa iri dan benci, terlintas dipikiran ku sebuah pertanyaan?

“Kenapa aku memiliki langkah yang kecil ini dan Kenapa aku harus melangkah seribu kali untuk mengejar si Langkah besar ?,”.

Saat memikirkan hal ini, aku merasa bahwa dunia ini sedikit curang dalam beberapa hal, tapi pikiran ini harus dihapuskan karna aku harus percaya bahwa tuhan maha adil atas segalanya dan ada hal baik dari semua ini.

Langkah besar adalah orang-orang yang memiliki kelebihan sejak lahir, orang-orang yang memiliki Bakat, dan orang-orang yang tak perlu berusaha untuk menggapai keindahan di dunia. Sebagai langkah kecil terkadang aku iri terhadap mereka, terlebih jika aku melihat kehidupan yang mereka jalani. Dalam hati aku berkata

“Kenapa mereka, kenapa bukan aku? Aku ingin seperti Mereka,”

Sangatlah sempurna saat aku melihat kehidupan mereka, tapi sesaat aku termenung dan teringat sebuah Kutipan “Bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini”. memikirkan hal ini membuat ku bertanya-tanya “Apa benar, aku akan bahagia jika memiliki langkah yang besar?,”. mencari jawaban pertanyaan seperti ini tak akan pernah selesai di kepalaku, sampai pagi pun menjemput ku untuk berhenti memikirkannya.

Lambat laun pertanyaan itu pun akhirnya terjawab,  ketika aku tau ternyata di dunia ini tidak hanya ada Langkah kecil dan langkah besar. Aku menyadarinya saat melihat mereka, “Langkah Tak Bertuan,”. Langkah tak bertuan adalah orang-orang yang tak bisa melangkah, tak mau melangkah lagi dan lupa bagaimana cara untuk melangkah atau bisa dikatakan mungkin orang yang kurang beruntung. Saat melihat mereka aku tau, mereka punya tatapan itu. Tatapan yang sama saat aku memperhatikan si langkah besar. Mereka iri, mereka ingin seperti aku, dan yang lebih penting mereka ingin aku untuk menolongnya. Aku merasakan hal itu saat melihat mereka, terkadang aku membantunya sebisaku sambil berharap itu dapat membantu untuk memulai sebuah langkah kecil.

Setelah menyadari kehadiran “Langkah Tak Bertuan”, aku sadar ada hal-hal yang bisa ku syukuri karena memiliki langkah kecil. Aku memang tak melangkah seperti Langkah Besar, tapi dengan melangkah kecil, aku bisa memperhatikan sekelilingku saat aku melangkahkan langkah kecilku. Terkadang aku menemukan Batu yang bisa membuatku Terjatuh, Lubang besar yang bisa menjebloskan ku dan tembok-tembok yang tak bisa kulangkahi. Hal-hal inilah yang mungkin akan mendewasakan dan memperbesar jarak langkah ku agar menyamai mereka yang memiliki langkah yang besar.

Saat memikirkan langkah-langkah yang dimiliki setiap orang, aku sadar Tuhan selalu memiliki rencana untuk setiap langkah yang kita ambil. Mungkin ada rasa kecewa, pengkhianatan, putus asa, musibah dan masih banyak lagi hal yang mungkin membuat kita menjadi langkah tak bertuan. Bahkan aku pun pernah merasakannya menjadi langkah tak bertuan, saat itu aku benar-benar tak tau harus melakukan apa seperti masuk kedalam sumur tua yang dalam, aku hanya mengharapkan tangan seseorang datang mengangkatku keatas untuk keluar dari sumur tua tersebut.

Mungkin orang yang memiliki langkah besar adalah orang-orang yang dahulu melangkah dengan langkah kecil, bahkan mungkin mereka adalah langkah tak bertuan.  Dan mungkin saja para pemilik langkah tak bertuan adalah orang-orang yang dahulunya memiliki langkah besar. Seperti itulah dunia, jika memikirkan ini maka  aku berpikir bahwa “Setiap langkah merupakan proses unik dari setiap orang, tidak peduli dia memulai dengan langkah seperti apa itu, selalu ada harapan dari setiap langkah yang kita ambil. Tidak ada langkah yang tidak sulit, hanya bagaimana cara kita menikmati setiap kali kita melangkah, baik itu dengan langkah kecil, langkah besar dan saat kita menjadi langkah tak bertuan karena tak ada langkah yang sempurna. Jadi nikmatilah langkah-langkah itu, mereka juga bagian dari dirimu,”.

Fyi : ini bukan aku


Jakarta, 21 Desember 2017

 

 

Posted in Sajak

Sang Waktu

14 Desember

15 Hari menjelang akhir

permulaan akan kembali

Menutup semua yang terlewati

Baik untuk ku

Atau pun dirimu

Waktu selalu seperti itu

Memaksa kita melupakan sesuatu

Memaksa kita untuk melangkah maju

Karena waktu tak mau menunggu

Untuk setiap penyesalan

Atau pun untuk mengenang kebahagiaan

Waktu akan terus berjalan

Meningalkan sebuah kenangan

Meningalkan sebuah cerita

Yang membuatku bertanya-tanya

Bisakah aku menghentikanmu

Sebentar saja, berikan aku waktu

Untuk berbicara pada diriku

Tentang setiap hal yang telah menghilang

Tentang setiap rasa yang kubuang

Tentang sebuah harapan dan doa

Dan sebuah cinta yang terlupa

Agar aku dapat mengerti dirimu

Dan alasanmu yang tak pernah mau menunggu

kumohon, Jawablah keresahan ku

Wahai sang waktu.

Jakarta, 15 Desember 2017

Posted in Cerita-cerita

Saingan

Hmm kadang aku berpikir “apa yang aku lakukan disini ?”.

Ya pikirin itu datang ketika aku bingung dalam melakukan sesuatu, apalagi aku ini adalah orang yang gak gampang termotivasi dalam mengejar hal-hal dunia seperti mimpi, keinginan, cita-cita, uang dan pasangan. Kenapa? Karena..

untuk Mimpi?  aku masih belum punya hal yang bisa di bilang mimpi,

untuk Keinginan? aku cuma mau main-main, santai dan kenginan terpenuhi, aku ingin jadi dewa kayanya.

Untuk cita-cita? kayanya ngak ada juga deh, aku malah lebih ke cinta-cinta.

Untuk Uang? kalau uang, ya dapat syukur, gak dapat ya sudah tinggal minta, kasian ya orang tuaku.

Untuk Pasangan? Nunggu Tuhan kasih aja lah, apalagi tuhan maha pengasih. kasihnya sudah cukup bagi ku.

ya mungkin 5 hal itu alasan kenapa aku gak gampang termotivasi kalau untuk mengejar suatu hal yang ada di dunia. makanya aku butuh satu hal, yah itu adalah “Saingan”. Aku lebih termotivasi kalau ada saingan. Kalau ada saingan dalam melakukan suatu hal jiwa aku kaya semangat-semangat gitu, membara berapi-api dan kesal saat tak mampu. Saingan yang aku anggap ini bukanlah orang sembarang butuh seleksi dan kerja keras untuk menemukannya seperti orang yang emang udah ku anggap temen. yah saingan yang kumiliki hanyalah teman-teman yang aku punya,  karna kalau saingan bukan sama temen bisa-bisa aku berubah jadi jahat, keji dan menyedihkan. Aku gak mau hidup seperti itu.

Biasanya kenginginan-keinginan yang aku punya itu meniru-niru keinginan orang yang udah aku anggap saingan. Kalo mereka ngejar itu, yah sama aku juga ngejar itu. kalo mereka melakukan hal-hal luar biasa maka aku pasti akan niru dia juga, kalo dia pintar melakukan suatu hal pasti aku akan belajar buat lakuin itu juga. Itu lah kenapa aku berterima kasih sama orang-orang yang aku anggap saingan karna dia membuat aku lebih termotivasi dalam mengejar suatu hal. Aku sangat termotivasi kalau untuk ngalahin saingan, bersaing sampai menang dan cepet-cepetan sama saingan. Hal itu bisa bikin aku semangat apalagi kalo Cepet-cepetan ngabisin makan, Cepet-cepetan naikin rank main mobile legend, cepet cepetan sampai rumah, waduh bisa buat aku lebih semangat lagi. asal hal itu kearah positive pasti akan menyenangkan kalau ke arah negatif, mending sendiri aja cepet-cepetan karna aku gak mau.

Sainganku itu biasanya orang-orang perkasa dimataku layaknya superhero dan lagenda-lagenda mistic, tapi aku tahu itu semua palsu.  Dibalik saingan yang hebat kaya supermen tidak selamanya dia menjadi supermen, karena seperti aku mereka juga manusia yang terkadang hilang arah. Ketika melihat saingan yang sudah tak bergairah, tak karuan dan hancur berserakan itu membuat aku kadang merasa sedih. Saat aku melihat mereka sudah gak bisa aku jadiin saingan lagi rasanya itu sepi. karena orang-orang yang aku jadiin saingan pastilah orang yang aku anggap lebih hebat, lebih jago dalam suatu hal dan lebih membara dalam menjalani hidup. tidak seperti aku yang lebih sering merasa merana dan berdoa. saat mereka kehilangan 3 hal ini, bagi ku dia bukan saingan lagi dan akan membuat hidup ku tak termotivasi, layu dalam kebingungan dan dimakan kemajuan Zaman. aku gak mau itu terjadi.

Saingan adalah orang yang mengangkat aku sampai tahap ini, menguatkanku saat menghadapi masalah dan memotivasiku dalam melakukan suatu hal. Tanpa saingan hidup itu membosankan dan sedikit tidak karuan, kuharap mereka tetap menjadi orang-orang yang hebat, tetap semangat dan tak tepuruk menghadapi kenyataan yang di bawa oleh sang waktu. Karena aku membutuhkan saingan untuk menjadi hebat di masa depan. Layaknya Naruto yang bersaing dengan Sasuke dalam serial Naruto, Zoro dengan Sanji dalam serial One Piece dan Natsu dan Gray dalam serial Fairy Tail.

“Aku pun mau seperti itu”.

——-

FYI : ini bukan aku yaa.

Jakarta, 12 Desember 2017

Posted in Sajak

Sepedaku

Sepedaku

Dengan cepat kukayuh dirimu

Kususuri jalanan ibu kota denganmu

Sambil Melihat mereka yang terjebak dijalanan sambil menatapmu

Mata mereka tertuju padamu

Seakan iri pada sepeda jinggaku

Sepedaku

Dibanding dengan kendaraan lainnya

kau sangatlah lambat

Tapi tenanglah

Berbeda dengan mereka yang cepat

Kau tak akan pernah mengeluarkan asap

Yang merusak dunia secara perlahan

Sepeda ku

Terkadang orang-orang melihatmu

Mengatakan ingin menggunakanmu

Tapi ku tau semua itu palsu

Walau mereka mengerti kegunaanmu

Mereka tak akan mau menggunakanmu

Sudah banyak yang menggantikanmu

Itulah kenyataan yang harus kau tau

Sepedaku

Dulu banyak yang menggunakanmu

Memuji dan menyanjungmu

Sampai kendaraan lain datang mengantikanmu

Lebih cepat darimu

Lebih tangguh darimu

Tapi tenanglah sepedaku

Masih ada yang menyukaimu

Menyayangimu dan mencintaimu

Sadari lah itu

Sepedaku

Banyak kenangan kulalui denganmu

Kupastikan akan selalu bersamamu

Bersama kita akan sampai pada tujuan itu

Karna aku menyukai kesederhanaanmu

Kuharap kau tetap seperti itu

Sepeda jinggaku

Depok, 9 Desember 2017

*Menjawab tantangan pusi dadakan