Doni : Serpihan Mimpi-Mimpi

Bangun Don, Bangun sudah Pagi!!

Iya, Bu Doni bangun. jawab Doni.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, suara ini kembali terdengar di telinga Doni, suara khas yang mampu menghidupkan mesin Doni untuk kembali bekerja dan langsung melangkahkan dirinya ke kamar mandi. Doni ialah seorang karyawan biasa di Ibu kota, memiliki kulit hitam yang terbakar sinar matahari dan rambut klimis yang selalu dia siapkan di pagi hari untuk melangkahkan kakinya memulai kehidupan di hari ini. Seperti para pekerja di Ibu kota, yang selalu di tuntut untuk datang tepat waktu, berdesakan dengan para pegawai lainya saat dijalan untuk menuju tempat bekerja dengan mata setengah mengantuk Doni berangkat menuju kantor dan hampir setiap pagi Doni melalui pagi harinya seperti ini.

Doni merupakan karyawan yang rajin dalam bekerja, dia telah mendidikasikan hidupnya untuk bekerja melupakan mimpi-mimpinya selalu terbayang saat dia mengendarai mobilnya mengahadapi padatnya jalan ibu kota yang membuatnya meninggalkan masa lalunya yang dulu sebagai seorang pemimpi. Dulu Doni selalu memiliki mimpi ingin menjadi seorang Polisi, Abri, Pengusaha, Guru dll, walau mimpinya selalu berubah tetapi Doni selalu yakin dia akan menjadi orang sukses, tidak pernah terlintas dipikiran Doni, bahwa dia akan berakhir menjadi karyawan biasa di usianya yang ke-31 Tahun. Sang waktu berlalu sangat cepat dan memaksa Doni untuk melupakan mimpinya dan melanjutkan hidupnya sebagai seorang karyawan, satu persatu ekspestasi Doni untuk menggapai sesuatu memudar, dulu dia dengan mudah mengatakan “Suatu saat nanti aku akan menjadi orang sukses,” tapi kini hal itu tidak pernah terlintas di pikirannya, waktu telah merenggut rasa percaya diri itu, keyakinannya, kebebasannya dalam berpikir dan hal ini membuat Doni takut untuk bermimpi kembali, dan memilih menjadi “seorang robot pekerja tanpa mimpi,”.

—–

Suatu hari musim libur pun tiba Doni memutuskan untuk mengantar kedua orang tuanya pergi untuk berlibur, hal ini juga adalah hal rutin yang dilakukan Doni karena sampai saat ini doni belum memiliki keinginan untuk berkeluarga. Sehingga kebahagiaan orang tuanya adalah prioritas Doni berbeda dengan kakaknya yang harus memprioritaskan anak-anaknya. Didalam perjalanan doni dengan sabar mendengarkan obrolan kedua orang tuanya, menghiasinya dengan hal-hal lucu yang bisa membuat orang tuanya tersenyum dan ceria. Doni menyetir mobil tuanya dengan bahagia, menuju tempat liburan yang telah di tentukan yaitu sebuah pantai yang indah di pesisir jakarta.

Sesampainya di lokasi liburan Doni, mengajak orang tuanya untuk melihat pantai, menikmati Ikan bakar dan segelas es kelapa. sambil berbicara dengan kedua orang tuanya.

‘Bu, Pantainya indah kan Bu,” Kata Doni

“Iya nak pantainya indah Ibu suka, Bapak juga seneng keliatannya diajak jalan jalan,” jawab Ibu, melihat ke Bapak yang sedang melahap ikan bakar sambil menonton tv di tempat makan tersebut.

maaf ya bu, Doni cuma bisa ajak kepantai, abis gaji doni pas-pasan,” kata Doni

“Tidak apa-apa nak, Ibu yakin kalo kamu sukses pasti ngajaknya gak kepantai lagi tapi berangkatkan Bapak dan Ibu pergi haji. ya kan Pak?,”

“Iya Bu, bapak percaya kok sama Doni,” jawab Bapak.

Mendengar ucapan ini Doni hanya terdiam dan tersenyum. entah mengapa dia mengingat dirinya saat dia baru lulus kuliah. Saat itu Doni dengan mantap mengatakan bahwa dia akan menjadi orang besar dan memberangkatkan kedua orang tuanya pergi haji, belum ada beban berat pada di diri Doni saat itu.

Sepanjang perjalanan pulang Doni memikirkan kata kata Ibunya, dia melihat sosok kedua orang tuanya yang sudah tua dan sampai saat ini Doni belum mampu membuatnya pergi haji. Hal ini membuat Doni mengingat 5 tahun kebelakang ini. Dia menjalani kehidupannya dengan bekerja setiap hari dan pencapaian yang didapatnya saat bekerja belum mampu menaikan jabatannya di kantor, sampai saat ini Doni masihlah seorang Staf yang mendidikasikan dirinya untuk bekerja setiap waktu dan melupakan mimpi-mimpinya. Sesampainya dirumah, doni memakirkan mobilnya kedalam garasi, mencuci mukanya dan masuk dalam kamarnya. Doni memikirkan dirinya di masa lalu dan membandingkan dirinya saat ini. Pikiran Doni terus memikirkan dirnya dimasalalu dan dalam pikiranya Doni bertanya-tanya pada dirinya yaitu ” Sejak kapan Doni meningalkan dirinya, yah dirinya sebagai seorang pemimpi yang memiliki tujuan hidup yang besar menjadi seorang robot pekerja Ibu Kota tanpa mimpi,”. Hal ini terus dipikirkan Doni, sampai pagi menjemputnya dan menyalakan mesin robotnya kembali.

Pagi ini Doni bangun lebih pagi dari biasanya padahal hari ini adalah hari libur, tapi semalam dia menelpon Andri untuk bertemu, sudah lama sekali Doni tidak bertemu Andri hampir 3 tahun. Hal ini dikarenakan kesibukan yang mereka miliki, apalagiย  Andri telah menikah dan di karuniai 2 anak, Hal ini lah yang membuat Doni dan Andri sulit untuk bertemu. Andri merupakan sahabat Doni dari SMA bagi Doni hanya Andri lah yang mengerti tentang dirinya, mengetahui masa lalunya dan bermacam-macam rahasia. Doni mulai menyalakan mesin mobilnya, sambil mengisap rokok di tangan kanannya Doni berangkat meninggalkan rumah menuju caffe yang telah ditentukan oleh Andri.

—-
CAFFE

Sampailah Doni di sebuah caffe, di lihat dari kejauhan tampak senyuman Andri telah menunggu Doni.

“Don sini,”. Teriak andri

“Doni melihat kearah Andri, sambil tertawa,” Woy Andri”.

Doni sangatlah senang bertemu dengan Andri, mereka saling bercerita tentang kehidupannya saat ini. Andri menceritakan kehidupannya yang menjadi seorang maneger perusahaan, sebagai seorang Suami dan seorang Ayah sedangkan Doni hanya mampu menceritakan kehidupannya sebagai staf, menceritakannya dengan hati kecil melihat kesuksesan temannya. Mereka menceritakan dirinya dan terkadang terdengar tawa dari keduanya yang memenuhi ruangan cafee, keceriaan mereka terus berlanjut sampai pada saat Andri menceritakan dirinya yang telah bercerai dengan Istrinya.

Andri ternyata telah gagal membina keluarganya. seorang sosok sempurna dan kuat di mata doni ternyata tidak mampu mempertahankan pernikahannya. Andri mulai bercerita bagaimana kehidupan pernikahan mereka, dan perubahan sosok Istrinya yang menjadi pemarah setelah Andri berhasil menjadi seorang manejer. Saat itu Andri yang berposisi sebagai seorang manejer di Ibu Kota tidak kalah sibuk di bandingkan Doni, hampir tidak ada waktu bagi Andri untuk keluarganya setelah dia menjadi seorang manejer. Sebagai seorang ayah Andri fokus terhadap karirnya untuk menyiapkan masa depan anaknya. pekerjaan yang dilakukan Andri memaksanya untuk pulang larut malam. hal ini lah yang menurut Andri memicu istri terus berpikir bahwa ada perempuan lain di hidup Andri. Andri yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya tidak menghiraukan kecemburuan ini, yang berubah menjadi pertengkaran yang selalu di dengar oleh anak perempuanya sampai mereka bercerai.

Mendengar cerita ini tentulah doni terkejut, dirinya tidak tau harus berkata apa terhadap Andri, Andri Terlihat seperti ingin menangis, pekerjaannya yang dilakukan untuk masa depan anak-anaknya justru membuat keluarganya harus terpisah. hanya kalimat “Sabar” yang keluar dari mulut Doni. Doni melihat diri Andri yang terlihat sedih saat menceritakan kehidupanya. Andri mengatakan pada Doni bahwa “dirinya merasa hampa dan kesepian, dan mimpinya telah berakhir hanya kekosongan yang ada pada dirinya,”. mendengar hal ini Doni pun teringat oleh Ucapan Andri di masa lalu, dia selalu mengatakan bahwa dirinya akan membimbing anaknya, membina Istrinya dan membangun keluarga yang bahagia, bagi Andri saat itu keluarga lah yang utama baginya. Tapi melihat Andri saat ini, menyadarkan Doni dari lamunannya, bahwa mimpi besar Andri itu telah Hancur menjadi sebuah Serpihan-Serpihan mimpi baginya. Doni teringat oleh sosok Andri dimasa lalu, dulu Andrilah yang mengajarkanya untuk Bermimpi, Andri yang selalu optimis saat Doni tidak yakin akan sesuatu dan Andri yang selalu menasehatinya layaknya seorang Kakak. tapi melihat Andri sekarang Doni tau bahwa Andri sama seperti dirinya saat ini. ya seorang ” Lelaku tanpa mimpi, tanpa tujuan dan melanjutkan kehidupannya seperti robot yang telah terprogram dengan baik,”.

dan setelah Andri selesai bercerita, keheningan pun terjadi lalu Andri menatap Doni dan berkata

“Kau harus lebih Baik dapada aku Doni,” perkataan itupun mengakhiri Pertemuan antara Andri dan Doni.

Selesai pertemuannya dengan Andri, Pikiran Doni semakin terbagi-bagi. Dalam perjalanan, Doni mengingat dirinya di masa lalu kembali, mengingat kembali mimpi-mimpinya yang telah gagal dan menjadi serpihan-serpihan mimpi baginya, yang membuat Doni tidak berani lagi bermimpi atau mencoba untuk menata serpihan-serpihan mimpi itu. Malam itu dalam diri Doni untuk sekian lamanya Doni merasa hidup kembali. Doni sadar Selama ini dia telah hidup tanpa mimpi, Kegagalan-kegagalan yang dialaminya membuat Doni takut untuk bermimpi dan memilih disibukan oleh pekerjaannya membuang mimpinya satu-persatu dan menjadi serpihan mimpi baginya. Dalam lamunannya Doni pun berkata “Mari Bermimpi Doni,”

Jakarta, 21 November 2017

Advertisements

14 thoughts on “Doni : Serpihan Mimpi-Mimpi

  1. Kadang saya memilih untuk tidur. Karena ketika bangun dari tidur, itu lebih menyakitkan.
    Keren. Teruskan!

    Like

    1. Jika itu menyakitkan, cobalah terlelap dalam sakitmu saat kau tersadar.

      Makasih bung.

      Like

    1. Bagi ku sih cerpen kak. Emang kaya bukannya?, aku baru belajar nulis.๐Ÿ˜…

      Like

      1. Bagus kok. Cuma, tulisannya kurang rapih. Doni kan nama orang. Harusnya kapital.๐Ÿ˜Š

        Liked by 1 person

      2. Oh Iya kak, masih banyak perbaikan di tulisannya, kelemahan aku nih kalo buat tulisan. Nanti ku perbaiki secepatnya, makasih ka. ๐Ÿ˜Š

        Like

      3. Hehe.
        Iya.
        Semangat ya.
        Aku juga masih belajar, kok.๐Ÿ˜Š

        Liked by 1 person

      4. Iya ka icha,
        harus tetap semangat kita๐Ÿ˜.
        Yuk sama-sama belajar.๐Ÿ˜Š

        Like

      5. Iya, apalagi sekarang lagi banyak event terbit cerpen loh.

        Like

      6. Event apa tuh ka? Siapa yang ngadain?

        Like

      7. Event kumcer. Banyak. Penerbit indie sih.๐Ÿ˜…

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close