Catatan Andi 1 : mimpi

Kisah ini bermula dari sebuah Desa. Penuh dengan keindahan dan senandung dikala senja, memiliki banyak arti walau tak bisa kupahami. Perkenalkan namaku adalah andi, pemuda lemah yang pernah mengejar mimpi. Walau perjalanan itu tak pernah mudah, sampai saat ini aku tetap seorang pemimpi.

Aku ingat saat dikota, masih polos dan tak punya wajah. Saat itu aku belum tau siapa-siapa, ingin sekali aku mengenal sebuah cinta. Sebagai orang desa yang pindah ke kota, aku selalu berlaku ramah. Entah mengapa saat itu sulit sekali untukku marah bahkan untuk berkata-kata. Bagiku semua itu sia-sia, karena memang sifatku yang selalu mengalah

Hari-hari pertama ku jalani di kota. Tentu saja aku baru mengenal dunia kerja. Walau aku polos dan tak berwawasan, aku maju walau tau akan ditendang. Sebenarnya bingung saat memulai bekerja tapi untung saja aku punya kenalan di kota. Namanya adalah Aji, dia ini senior ku dalam bekerja. Aji selalu memakai kacamata dengan baju berwarna manja. Seperti orang pintar yang bekerja dikota, Aji adalah petarung yang tak pernah lelah.

Aji pernah berkata “bekerja dikota bagaikan tinggal disarang buaya,”. Tentu saja aku bertanya “kenapa bilang sarang buaya?,”. Dia hanya menjawab “bahwa akulah mangsa sang Buaya,”. Waduh sungguh naas jika benar, karena aku tak mau diterkam Buaya. Jika memang aku mangsanya lebih baik aku menjadi Singa, setidaknya aku terlihat lebih perkasa.

Lama-kelamaan tinggal dikota membuat aku sedikit rindu akan suasana desa yang selalu menunggu. Tapi sudahlah tak akan mudah kembali ke Desa. Perjalan ku kekota bukan tanpa tujuan. Aku kesini untuk menjadi seorang penyanyi, yang terus-menerus di cintai. Suaraku ini sedikit merdu, jika ada yang mendengar rasanya bagai memakan kaldu, akan membuat mu tersipu-sipu.

Ternyata kenyataan tak semudah yang aku kira. Suaraku tak pernah sampai ditelinga siapapun. Ekonomilah masalah utama, karna aku membutuhkan uang untuk membayar biaya. Terkadang aku berpikir sudah banyak yang kubangun agar mimpi ini terjadi. Tapi kenapa tuhan tetap menjadikan ku seorang pekerja, ah rasanya aku akan gila.

Untung saja aku mengenal dia, yah gadis cantik bernama Bunga. Memiliki hidung mancung dan suara manja ditambah dengan kulit mulus yang membuatku tergila-gila. Waduh, rasanya sudah tak tahan saat melihat dirinya. Ingin sekali ku dekap dia dengan manja. andai dia milikiku apakah aku akan melupakan segalanya?

Bunga pernah berkata “bahwa menikah itu bukanlah tujuan dia,”. Ternyata dia memiliki banyak mimpi dan kata. Ingin sekali ku dengar semua ceritanya, tapi suara manjanya berhenti setiap aku bertanya. Maklumlah aku ini pria desa, berambut klimis tapi tak punya dana. Andaikan saja punya dana tentu aku akan belajar mencinta. Tapi sudahlah, biar ku buang saja rasa-rasa yang didada karna aku bukan seorang pecinta.

Ini sudah 3 bulan sejak aku bekerja, selalu ku perhatikan Aji dan Bunga. Saat melihat mereka, membuatku bertanya-tanya.

“Kenapa mereka sangat rela bekerja?,”

“Apakah mereka terjerat dalam mimpinya atau dia sudah membuangnya dan memilih untuk bekerja?”

Hidup memang selalu seperti itu, percis yang dibilang tetangga bahwa Tak akan mudah mengerti kehidupan Kota. Dari pada terus begini, lebih baik aku bertanya saja?

Akhirnya kuberanikan untuk bertanya kepada Aji, karna jika dengan bunga. bisa-bisa aku tambah cinta Tapi…

“Kak Aji, ….,”

“Kenapa ndi,?”

“Punya gak kontak kak Bunga,?”

“Waduh, ndi-ndi bisa aja, nih catat baik-baik, 0857XX983XX93”

“Makasih nih mas aji,”

Akhinya dapat juga nomor Bunga, aku langsung pergi meninggalkan kak Aji. Sungguh senang rasanya, saat aku mendapat kontak Bunga. Yah, tak apalah aku bertambah cinta, toh dia gadis baik dan manja. Sungguh aku suka, mudah-mudahan tuhan akan mempermudah.

Sejak saat itu, aku mulai menghubungi Bunga. Perlahan muncul sebuah percakapan diantara kita berdua. Walau awalnya sedikit memaksa akhirnya Bunga tidak melihatku lagi dengan satu mata. Akhirnya kupaksa bunga untuk bercerita tentang kehidupanya dan juga mimpinya. Saat itu aku mengirim pesan padanya

“Bunga, aku punya mimpi menjadi seorang penyanyi, kamu pernah gak punya mimpi,?”

Bunga pun membalas pesanku, dia bercerita bahwa dulu dia ingin menjadi pengusaha. Bahkan dia pernah mencoba membuat sebuah toko kue di pinggir jalan raya, berjuang untuk mempertahankan mimpi-mimpinya. Tapi sayang usahanya tak berbuah, hanya cicilanlah yang tersisa untuk Bunga. kini Bunga terpaksan harus bekerja, melupakan impiannya dan membuat ku merasa iba.

Membaca pesan bunga, membuatku memikirkan 3 hal.

“Apakah ada arti dalam mengejar sebuah mimpi?,”.

“Apakah setiap mimpi ini harus terjadi?,”.

“Mimpiku ini menjadi penyanyi, seorang publik figur yang disukai, mengeluarkan suara yang harus kalian puji,”

Memang saat kuliat-liat sedikit sekali orang dewasa yang mempunyai mimpi. Kebanyakan sudah di serahkan kepada sang ilahi. Dengan alasan sudah tak ada waktu untuk bermimpi, apalagi lagi dengan kebutuhan yang terus-menerus harus di beli. Orang-orang dewasa itu pun lupa akan mimpinya. Sudah lah lebih baik kutulis sedikit puisi karena aku masih ingin bermimpi.

Adakah arti dari sebuah mimpi?

Yang kukejar walau tak pasti

Kulihat mereka menari-nari

Menertawaiku yang masih bermimpi

Mungkin kah ini hanya ilusi

Yang tersirat terbagi-bagi

Belum lelah aku berlari

kenapa kalian ingin aku berhenti

Sudahlah jangan bicara mimpi

karna tak akan kuilhami

Muak sudah menunggu pagi

Kuharap Bunga ada disini

Catatan ini akan menjadi saksi

Sebuah tulisan yang tak kau pahami

Biar Kutaruh Catatan ku disini

Berharap kalian tak akan mengerti

Arti aku yang mencntai mimpi

Jakarta, 25 Desember 2017

Advertisements

11 thoughts on “Catatan Andi 1 : mimpi

  1. Bunga seharusnya diperjuangkan sampai dapat.

    Like

    1. Masih di perjuangkan kok kak ami sama mas andi.

      Like

  2. Setidaknya diperjuangkan untuk seseorang yang dikasihi. Hehehe

    Liked by 1 person

    1. Iya kak rokhim, andi memang pejuang.

      Like

      1. Mantap Mbak. Lanjutkan perjuangannya. Heheh

        Like

  3. Boleh dong minta nomor bunga? Sini biar aku aja yang perjuangkan

    Like

    1. Jangan kak, kasian si andi sudah meloby

      Like

  4. ooh bunga, tahi lalat mu menggoda hem hem hem

    Like

    1. Waduh bunga itu putih tanpa titik hitam kak.

      Like

  5. Andi aku mau mendengar suaramu yang sedikit merdu dong

    Like

    1. Mungkin di nanti bun, kalo si andi sudah punya sound cloud.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close