ANTO : Bab II Peri

Saat itu hujan turun deras, beberapa orang mulai berteduh, mencoba menghindar dari rintikan air yang membasahi dirinya sedangkan beberapa orang lainnya membiarkan dirinya di basahi oleh air hujan yang jatuh kala itu. terlihat diantara mereka sedang memikirkan sesuatu, hujan telah membuat mereka memikirkan dunianya. Terkadang hujan memang bisa membuat kita memikirkan beberapa hal, tak terkecuali Anto yang kini terbaring lemas dikamarnya, mata anto mencoba berfokus pada sebuah berita hari ini “Seorang anak ditemukan tewas setelah di cekik ibu kandungnya.”.

Ditemani suara tv dan hujan membuat Anto semakin merasa lemas, anto telah menelan pil imajinasi saat ini. Dia meminum sebuah pil mujarab yang mampu memberikannya kemampuan untuk melakukan imajinasi berlebih. Anto mencoba kembali ke dunia yang ada di pikirannya. Dia kembali karena menyukai dunia yang berada dalam pikiranya, menurut Anto dunia tersebut lebih hidup dibandingkan dunia yang di tinggalinya. Disana belum ada teknologi yang mampu membuat seseorang untuk berhenti berinteraksi dengan sesamanya. dalam dunia imajinasi, tidak ada orang yang mempunyai hak untuk merasa asik dengan dirinya sendiri dan Anto selalu menjadi orang yang berbeda.

Dunia dalam pikiran Anto bernama “Semesta”. Anto menamakannya karena terkadang dia berpindah tempat saat dirinya terlelap. di dunia semesta, Anto bertemu bermacam-macam orang, hewan-hewan unik bahkan makluk lagenda dan mitos yang telah punah. Ini membuatnya tersadar bahwa dunia dalam pikirannya begitu luas dan akan butuh waktu lama menjelelajahi semuanya. Sebuah dunia luas tanpa batasan, Anto menamainya “Semesta”

Semesta adalah tempat dimana Anto dapat berilusi dan berimajinasi. Disana Anto memuaskan rasa penasarannya, kebingungannya dan kekagumannya. bahkan disana anto mengenal apa itu wanita, tahta, harta, kepribadian, surga, jabatan dan masih banyak lagi. Dunia semesta telah memberikan banyak hal untuk Anto dan sebuah imajinasi telah membawanya masuk ke dunia semesta, tepat disaat anto tertidur.

Anto masih terlelap, mencoba memfokuskan dirinya memasuki dunia semesta. Membawa misi yang sangat penting yaitu bertemu Peri mungil dan cantik. anto mencoba mengaktifkan setiap selnya dan memfokuskan pikirannya agar bertemu peri. Anto merasa mempunyai hutang kepada para peri, dia merasa bersalah atas apa yang menimpa para Peri.

Peri yang ingin dia temui bernama Sasa, Anto masih ingat saat pertama dirinya bertemu Peri Sasa. Saat itu Anto berperan sebagai seorang pemburu, sekaligus Pangeran kerajaan. Rakyatnya senang sekali memburu dan bagi rakyatnya memburu merupakan kewajiban seorang laki-laki. Bahkan sejak berumur 7 tahun, setiap lelaki harus tau cara berburu ikan, Umur 8 tahun berburu tupai, umur 9 tahun berburu burung dan umur 10 tahun mereka telah menjadi pemburu hewan-hewan buas. Tak heran setiap lelaki pandai memburu, kerajaan para pemburu.

Anto, sudah memburu semua jenis binatang di sekitar kerajaannya, jika ada perburuan yang belum pernah dia lakukan itu adalah perburuan untuk menangkap seorang Peri. Anto telah mendengar beberapa cerita tentang perburuan para peri. Menurut cerita, perburuan peri telah terjadi sejak 80 tahun yang lalu, saat itu orang-orang di kerajaan telah melakukan perburuan peri di dalam Hutan peri. Semua terjadi karena rakyat kerajaan telah dibutakan oleh harga dari seekor peri.

Peri-peri yang ditangkap kebanyakan dijadikan sebagai hiburan dan peliharaan dari keluarga-keluarga bangsawan. Para peri di perdagangkan bahkan beberapa pemburu telah menjualnya secara terpisah. Para penduduk menyukai keindahan yang terpancar dari sayap-sayap peri, mereka mencabutnya dan menjadikan sayap peri sebagai perhiasan. Sayap peri merupakan perhiasan nomor satu, itu semua karena cahaya indah nan mempesona yang terpancar dari sayap-sayap peri. Saat itu harga peri lebih mahal dari sebongkah emas.

Beberapa orang rela bertengkar untuk kepemilikan seekor peri. Ini membuat Anto membayangkan eksploitasi dan penindasa yang dilakukan rakyatnya kepada para peri. Hati kecilnya merasa bersalah atas perburuan peri yang dilakukan rakyatnya, entah mengapa Anto merasa bersimpati atas penderitaan yang dialami oleh peri.

Penderitaan para peri diceritakan oleh seorang pengawal kerajaan. Ingin rasanya Anto menghentikan perburuan para peri saat mendengarkan cerita yang disampaikan pengawal kerajaan. Tetapi belum sempat menyusun rencana, pengawal besar itu mengingatkan Anto, bahwa saat ini dia berada dalam dunia semesta. Di dunia ini Anto mempunyai jabatan dan peran yang berbeda. Dia merupakan pangeran dari kerajaan pemburu. Keputusanya untuk menghentikan peburuan bisa menjadi pelanggaran dari norma-norma adat yang berlaku. Melawan arus untuk menghentikan perburuan Peri bukan pilihan yang baik bagi Anto, itu bisa membuat dirinya di benci oleh rakyatnya. Anto membutuhkan keberanian yang besar untuk mematahkan tradisi, pemikiran akut dan keserakahan yang dimiliki rakyatnya dan saat ini Anto bukanlah ksatria pemberani.

Anto merasa prihatin mendengar keadaan yang dialami para peri, dia ingin bertemu Peri-Peri itu secepatnya. Sore itu ia memutuskan untuk berangkat melakukan perburuan Peri, dia akan melakukan dialog dengan peri-peri kecil tersebut. Dia menyuruh pengawalnya untuk menyiapkan beberapa perlengkapan untuk melakukan perburuan. Saat itu anto membawa seperangkat alat berburu,sekotak makan siang, seekor Kuda, seekor Burung, dan seorang Pengawal. Anto menyiapkan segalanya dengan matang, apalahi anto membawa Pengawal besar bernama Indra. Indra merupakan seorang ahli bela diri dan veteran perang di kerajaan. Nama indra telah terkenal di penjuru kerajaan, jasanya telah di tuliskan dalam prastasti kerajaan dan kehebatannnya merupakan lagenda kerajaaan. Indra adalah pengawal terbaik di seluruh kerajaan.

Anto dan Indra pun memulai perjalanannya menemui sang Peri, mereka berdua pergi ke tengah-tengah Hutan, mencoba menemukan “Goa Seribu Cahaya”. Goa tersebut bukanlah tempat yang mudah untuk di temukan karena berada tepat di dalam “Hutan peri.”. Tidak ada satu orang pun yang dapat menghafal seluk-beluk hutan peri, “seperti sebuah labirin.” kata Indra.

Anto dan indra tetap pergi kehutan peri, hutan dimana para peri tinggal, tempat dimana Goa seribu cahaya berada. Tetapi seperti sebuah labirin Hampir 8 jam Anto dan Indra masuk kedalam Hutan, berjalan kesana dan kemari memegang busur, panah dan pedang miliknya. Mereka terus mencari dan berharap untuk menemukan “Goa Seribu Cahaya”. Tetapi keadaan semakin memburuk ketika malam telah bersiap, ditambah derasnya hujan yang memaksa kedua mata mereka tertutup. Keadaan memaksa mereka berhenti, beristirahat dan memikirkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

Sebagai pengawal tangguh, Indra tidak beristirahat. indra memcoba membuatkan tempat yang layak dan aman ditengah hutan. Membuat tempat dari batang/ranting disekitar Hutan, membuat sebuah rumah/gubuk kecil dan menghiasinya agar terlihat indah dan sesuai dengan selera sang pangeran, lalu setelah hujan reda, Indra melepaskan burung yang mereka bawa, burung tersebut terbang tinggi keatas langit sambil membawa sebuah pesan yang ditujukan kepada Kerajaan, sebuah arahan untuk menjemput Pangeran besok hari.

“kita tersesat.” Kata anto di selimuti malam

“Para Peri akan mengeluarkan kita, esok hari” kata indra

“Peri?” kata anto

“ya peri, mereka tak akan membiarkan manusia mati?”

Malam dan hutan semakin mencekam. Tapi obrolan bahwa para peri masih menyelamatkan manusia membuat anto termenung dan terjaga, matanya melihat kesana-kemari mencari sesosok Peri. Ditemani segelas minuman dan hangatnya api, mata Anto terus melihat sekeliling, mencari Peri-Peri. Mata Anto terus mencari para Peri tapi lama-kelamaan pandangannya menjadi kosong. entah mengapa, dirinya memikirkan penderitaan para Peri dan ketidakberdayaanya untuk mencegah perburuan. Tak tahan atas tekanan batin yang terjadi, anto memutuskan melanjutkan pencarian.

Anto, memutuskan untuk mencari disekitar perkemahan, berharap para peri sedang memerhatikannya. dia menyuruh Indra tetap menjaga kemah dan melakukan pencarian sendiri. Indra menentang permintaan Anto, karirnya yang dibangunnya akan terancam jika terjadi sesuatu pada Anto, tapi segala larangan ditepis mentah-mentah, Indra yang berstatus pengawal bukanlah lawan yang pantas untuk Pangeran.

Anto mulai pergi mencari Peri, berteriak kesana-kemari memanggil para Peri agar menemuinya. Tapi sekeras apapun Anto berteriak Peri tersebut tak juga muncul. Anto berpikir apakah Peri-Peri itu sebenarnya telah punah atau mungkin semua Peri merupakan dongeng tak nyata. Semakin mencari, semakin gelap dan mencekam, tanpa sadar Anto telah berjalan cukup jauh dari perkemahan. Kini dirinya tertunduk lemas, anto merasa takut dan panik, dia dikelilingi Hutan gelap yang penuh bahaya.

Dalam perasaan takut yang semakin mencekam. Anto memejamkan matanya, berdoa, lalu memejamkan matanya kembali dan memanggil-manggil nama “Indra,”. Anto kebingungan tidak ada yang menjawab, sudah tidak ada pilihan lain baginya selain mulai mencari tempat untuk tertidur dan beristirahat.

Anto melihat setiap pohon yang ada di sekitarnya mencari pohon besar dengan dahan yang besar. Akhirnya Anto menemukan sebuah pohon besar dengan dahan-dahan besar. “ini tempat yang cocok,” pikirnya. Anto pun naik keatas pohon tersebut sampai pada tengah pohon, dia berhenti dan merangkak untuk duduk di dahan besar.

Anto mulai duduk dan berbaring didahan pohon. Sebelum dirinya terlelap, matanya tetap melihat kesana dan kemari mencoba memastikan keberadaan sang Peri dari atas pohon tetapi tidak ada satu Peri dalam pandangan Anto. Mata Anto mulai lelah karna terpaksa setengah melotot, dipejamkanlah matanya untuk beristirahat, lalu membukanya dan memejamkan matanya sekali lagi, berharap Peri ada di depannya dan saat matanya terbuka sesosok cahaya putih muncul di depan wajahnya.

Anto kaget saat melihat cahaya, ini pertama kali dirinya melihat Peri dari dekat tepat didepan wajahnya. Anto melihat dengan jelas, Peri itu memiliki kuping runcing, tubuh yang munggil, dan memiliki 4 sayap indah yang memancarkan cahaya putih. Peri itu benar-benar cantik, sesaat Anto terkesima melihat sang Peri. lalu tersadar saat Peri itu mulai terbang menjauh.

“Tunggu,”

“Tunggu,”

“Tunggu”

“Aku tak akan menyakiti, aku ingin meminta maaf sebagai perwakilan dari rakyatku dan aku ingin berbincang denganmu,” kata anto

Sang Peri menoleh, masih dengan rasa curiga, sang Peri menjaga jarak dari Anto.”untuk apa tuan disini, mencari kami?,”

“iya, aku mencari mu, ada yang harus kujelaskan” kata anto. Setelah melihat peri itu berhenti dan kembali kehadapanya, anto menjelaskan bahwa kedatangan ke hutan para peri untuk meminta maaf atas apa yang dilakukan rakyatnya bahkan anto mengatakan bahwa dia sudah cukup mewakili satu kerajaanya. Permintaan maaf yang tulus telah disampaikan tetapi anto tidak mengetahui bahwa Para peri terlalu kecewa akan penghancuran dan penangkapan yang dilakukan manusia. Tidak ada orang yang suka di jajah, begitupun peri mereka tidak menyukainya. Peri kecil itu bertanya, cukup satu kata “Kenapa?”

Anto terdiam membisu, pertanyaan “kenapa?” selalu terdengar menakutkan, Kenapa? Kenapa? Dan Kenapa? Entah siapa yang menciptakanya tapi anto yakin mereka adalah seorang penuntut. Anto tak bisa menjawab, lebih tepatnya menjelaskan jika alasan menangkap Peri untuk sebuah hiburan, perhiasan, dan kepuasan dari rakyatnya. ini akan membuat dirinya dijauhi para peri dan tentu saja sebagai orang yang mewakili umat manusia, dia tidak benar-benar bodoh menjelaskan semuanya. Anto harus memulainya dari awal dengan sebuah perkenalan.

“Siapa namamu wahai Peri,? aku seorang pangeran perwakilan umat manusia. Aku datang kesini untuk meminta maaf, dan jika kelak aku adalah Raja mungkin aku bisa melakukan sesuatu,” kata Anto merayu

“kapan kau menjadi raja?, namaku sasa”

“Aku tidak tahu, tapi aku adalah pangeran” kata anto menyakinkan

Mendengar ini peri sasa terbang mendekat ke wajah anto. Peri kecil itu mengarahkan kedua tangannya kemata Anto. seketika mata Anto ditutupi cahaya terang dan putih, cahaya yang sangat menyilaukan dan membuat Anto memejamkan matanya. Cahaya itu menghilang secara perlahan, sehingga anto membuka matanya pelan-pelan. Hal yang pertama anto lihat adalah seorang peri dengan wajah sedih, di perhatikan tangan peri itu menunjuk ke arah bawah Hutan. Anto langsung menoleh melihat kekanan, dilihatnya sebuah Goa dengan titik-titik cahaya.

“lihat Goa itu, goa seribu cahaya dan sekarang hanya seratus mungkin puluhan. Dulu cahaya itu menari bahkan cahaya itu bernyanyi. Kebahagian selalu ada saat itu, bahkan lebih dari itu manusia dan peri hidup bersama” Kata peri sasa

Anto terdiam mencoba memahami penderitaan para peri. ingin sekali mengucapkan kata maaf kepada Peri Sasa atas penghancuran dan penindasan yang dilakukan rakyatnya. Anto ingat sepanjang perjalanan, Indra menceritakan tentang hubungan manusia dan peri. indra bercerita bahwa telah terjadi pengkhianatan kepada para peri dan semua terjadi karena harga peri yang lebih tinggi dari bongkahan emas. Materi telah menghancurkan hubungan manusia dengan para peri.

“Hei.” Kata peri

“Ya, maaf aku melamun.”

“Dengar tuan, aku sebagai perwakilan para peri tidak bisa menunggumu menjadi raja, bukan karna kami tak mau. Tapi karna saat itu mungkin semua peri akan mati.”

Anto terdiam dan kembali melamun dengan tatapan kosongnya. mendengar ucapan peri yang menuntut, membuat dirinya merasa terbentur lagi dengan ketidakberdayaan, tidak di dunia bahkan di dunia “Semesta,”. Anto harus merasakan ketidakberdayaan dirinya sebagai pangeran. ketidakberdayaan adalah hal yang menyakitkan, membatasi setiap impian dan cita-cita yang dimiliki setiap orang.

“jika tidak bisa, tolong, kembalikan Peri yang telah kalian tangkap, dan jangan pernah masuk ke Hutan ini lagi,”

Anto tidak merespon ucapan peri, dia hanya terdiam membisu bahkan mempatung setelahnya. dia tau tidak mungkin mengembalikan Peri yang telah menjadi perhiasan. Cukup lama dia berpikir, anto mencapai kesimpulan untuk menyampaikan cerita yang disampaikan Indra. Anto mulai menceritakan tentang tujuan dari penangkapan para Peri, dia menceritakan setiap hal yang dilakukan manusia kepada para Peri. Anto menceritakanya agar dapat mengurangi perasaan dosanya terhadap Para Peri. tetapi mendengar cerita ini, hanya membuat Peri Sasa bersedih.

“Cukup, jangan bercerita lagi, lebih baik tuan pergi,” kata Peri Sasa mencoba menghentikan ucapan Anto. Peri Sasa terbang perlahan-lahan menjauhi anto. Melihat peri yang akan pergi, anto memanggil peri sasa berkali-kali, berharap peri kecil itu menoleh.

“Maafkan kami Peri Kecil,” kata anto “tunggu lah, saat aku menjadi Raja,” teriak Anto

Tanpa peduli, Peri Sasa pergi meninggalkan Anto. Peri itu tidak menjawab perkataan Anto tetapi dia menoleh sesekali, menatap Anto dengan matanya yang biru dan bersinar. Tatapan itu terlihat sendu bahkan cukup untuk membuat anto meneteskan air mata. Anto ingat bahwa Peri di ciptakan dengan hati yang tulus dan suka menolong, mereka terlahir baik, saking baiknya para peri lebih banyak menyimpan kesedihan dibanding kebahagian, mereka juga terlahir melankolis dan memiliki hati yang tidak mendendam, “kebaikan telah membunuh para peri dan mungkin itu alasan orang baik berumur pendek” kata anto bergumam.

anto menatap peri kecil itu menjauh, mengingat percakapannya dengan peri kecil. “aku seorang penipu” gumamnya lirih. “kata-kata hanya harapan dan tindakan itu pembenaran, kini aku diam dan larut bersama penyesalan,”. Seketika Anto menjadi melankolis seperti para Peri, anto bersedih diatas dahan pohon, sampai pagi datang anto tetap bersedih, bahkan anto tak keberatan untuk bersedih seharian. Tak lama Anto tersadar, bergegas pergi menuju perkemahan, Disana Indra telah menunggu dengan cemas dan kini merasa lega karena Anto telah muncul dihadapannya.

“Aku sangat cemas menunggu,” kata Indra sembari menunduk

“Maafkan aku,”

“Tidak apa-apa, sebentar lagi pasukan datang, tunggu sebentar, hanya sebentar,”

Depok,1 Juli 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close