BAB II ROBERT : Bekerja

Diantara kalian aku memang ingin menceritakan segalanya kepadamu. Aku bisa melihatmu duduk di ujung sana sambil menatapku yang bercerita dengan serius dan sedikit acuh di beberapa kesempatan. Ini menarik perhatiaanku apabila nanti kau akan mendengarkan setiap perjalan kehidupan yang telah aku lewati. Bagaimana kau akan menanggapi setiap cerita yang akan ku sampaikan. Kau harusnya bersyukur, Aku mengucapkan selamat kepadamu. kau benar-benar orang yang beruntung kali ini, kuharap ceritaku tidak akan membuatmu bosan.

Aku akan memulainya dengan bercerita tentang kondisi dan keadaanku saat ini, aku adalah seorang lelaki dengan pekerjaan sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan yang terletak di ibu kota, ya aku berada di Jakarta. Selama aku bekerja di Jakarta, Aku melaksanakan setiap pekerjaanku dengan baik dan sempurna. pengalaman telah mengajarkanku untuk tidak membuat kesalahan kecil yang biasa dilakukan oleh orang-orang awam saat bekerja.

Sebagai pegawai senior berumur 50 tahun, aku selalu mencoba tampak dewasa dan sedikit berwibawa diantara pegawai-pegawai muda yang penuh dengan ambisi. Kau tau pegawai muda itu ingin mengambil posisiku saat ini, dia tidak tau bagaimana aku mendapatkan pekerjaan ini dan aku yakin dia tidak akan bisa bermain-main dengan pekerjaan seperti ku. Sebagai kepala keuangan di perusahaan aku telah banyak melakukan perbuatan-perbuatan curang untuk memuaskan keinginan atasanku, jangan bilang aku seorang pendosa, karna kenyataannya aku hanya seorang pekerja.

Menjadi seorang pekerja tidak pernah menyenangkan untukku, walau beberapa orang mengatakan bahwa aku adalah pegawai teladan diantara pegawai seumuranku. Mereka rasanya iri pada kemampuanku, andai saja mereka mengerti bahwa Sebutan Pegawai teladan yang mereka berikan merupakan bentuk penghinaan untukku. Mereka seperti lupa bahwa semua yang aku lakukan semata-mata karena kebebasanku telah dibeli dengan lembaran-lembaran uang dan mereka pun telah di beli sama sepertiku. Memang kuakui bahwa aku selalu menyukai uang-uang di dompetku tapi tidak dengan mereka yang berada diatasku. Aku membenci orang-orang yang memaksa kepalaku tertunduk, sebuah penghormatan yang harus kuberikan setiap waktu.

Aku tidak suka memiliki kehidupan dengan kepala tertunduk dan melakukan penghormatan kepada seseorang. Bayangkan di umurku yang sudah menyentuh 50 tahun, aku masih diharuskan untuk tertunduk dan tersenyum kepada mereka yang berumur jauh di bawah ku atau hanya berbeda beberapa tahun dariku. Aku tidak menyukainya, sama sekali tidak menyukainya, apalagi saat aku melihat penghormatan berlebihan yang di berikan pegawai-pegawai muda itu, aku sangat membencinya. Jika aku bisa berteriak aku akan berkata “Berhentilah bersikap seperti, kau hanya membuat atasanku tertawa.” Tapi aku mengurungkan niatku untuk berteriak karena kuyakin mereka lebih senang hidup dengan kepala tertunduk.

Sebagai pegawai senior berumur 50 tahun aku memang suka menasehati mereka yang baru seumur jagung. Jangan mengatakan jika aku menggangu, karna sudah tugasku untuk memberikan nasehat dan wejangan kepada orang-orang muda sepertimu. Walau aku bukan seorang yang memiliki karir cemerlang, tetapi setidaknya aku berada di posisi yang sesuai dengan umur dan kinerja pekerjaanku. Jangan berpikir bahwa aku bukan pegawai yang tidak berkontribusi di lingkungan kantor. Karena akulah yang menolak mereka menaikan jabatanku, aku tidak ingin mereka membeli waktu menyanyiku, sunguh aku tidak ingin mereka mengambil yang tersisa dalam hidupku.

Aku benar-benar membenci setiap pekerjaan, jika bukan karna anak dan istriku yang menunggu kedatanganku membawa uang, aku akan berhenti meninggalkan pekerjaanku. Kau tau, aku benar-benar tidak ingin bekerja secara terikat dengan kontrak yang dibubui tanda tangan. Bagiku bekerja seperti menjalani kehidupan palsu, menyiapkan beberapa topeng untuk mereka yang menunggu kedatangan dan hasil pekerjaanku. Aku benar-benar merasa seperti badut saat bekerja, tersenyum dengan garis murung yang terlukis diwajahku.

Jika aku mengikuti perkataan mereka untuk “Kerja, kerja, dan kerja.” Pasti aku sudah merasa gila. Aku tidak pernah berpikir,bahwa kedua orangtuaku dan sisi ketuhanan yang kumiliku, menciptakanku hanya untuk melakukan pekerjaan dan mencari beberapa lembar uang. aku benar-benar tidak tertarik menghabiskan waktu hidupku seperti itu. Bagiku kebahagian sangatlah sederhana, bernyanyi bersama anak perempuanku sudah cukup membuatku bahagia.

Aku benar-benar tidak menyukai pekerjaan ini, dan tidak ada seseorang pun yang benar-benar menyuruhku untuk berhenti melakukan pekerjaanku. Istriku sangat senang jika aku pulang membawa uang, setidaknya itulah yang membuatku bangga telah menghasilkan uang. Dengan uang, keluargaku bisa bahagia dan karena uang semua orang lupa akan keinginanku menjadi penyanyi, semua telah lupa dan karenanya aku mengingatkan hal ini kepadamu.

Kuharap kau tidak melupakan impianku walau kali ini aku bercerita tentang pekerjaan. Kau harus tau, selain pekerjaanku sebagai seorang kepala keuangan. Aku juga seseorang yang bekerja sebagai psikolog di sebuah rumah sakit. Ya, aku memang mengambil jurusan psikologi sebagai program studi saat aku kuliah. Aku belajar psikologi dengan harapan di masa depan nanti, ilmu psikologi bisa membuatku mengerti tentang bagaimana bersosialisasi dan berhadapan dengan penggemarku. Aku tidak pernah terpikir bahwa studi yang kupelajari akan menjadikan ku seorang psikolog.

Kemampuan memahami dan membaca karakter seseorang telah membuat banyak orang tertarik kepada ku. Mereka tidak mengerti bagaimana aku bisa membaca seseorang seperti membaca buku yang tertulis tepat diwajah mereka. Semua bisa terlihat saat mereka memulai pembicaraan dengan maksud kepadaku, saat itu aku akan menawarkannya 2 pilihan. Yang pertama selalu ku sisipkan dengan sedikit ancaman dan pilihan kedua adalah pilihan yang sebenarnya telah aku tentukan. Mereka tinggal memilih tapi kebanyakan mereka mengambil pilihan yang telah kutentukan.

Sudah wajar, jika aku menghadapi pasienku dengan 2 pilihan. Sebagai psikilog aku diwajibkan memiliki kemampuan untuk membaca cara berpikir seseorang, mengembangkan emosi dan sosialisasi yang dialami oleh pasienku. Terkadang aku melakukan sesuatu yang disebut dengan menyeting emosi, aku mempersiapkan segala hal untuk membuat pasienku menceritakan berbagai hal. Menghadapinya dengan 2 pilihan terkadang membuat mereka mengerti tentang apa itu warna hitam dan apa itu warna putih. Sangat menarik memiliki Pekerjaan psikolog, walau impianku adalah menjadi penyanyi, setidaknya aku menyukai pekerjaan sebagai seorang psikolog.

Bekerja mungkin terdengar mudah saat aku menceritakanya, kau pasti merasa bahwa kehidupan pekerjaanku benar-benar sehat dan murni tanpa halangan. Semua benar-benar berjalan sesuai dengan rencana yang telah kususun di kepalaku. Tapi apa kau benar benar percaya bahwa kehidupan seseorang berjalan dengan sempurna?. Jangan, jangan pernah percaya jika seseorang mengatakan hal seperti itu, tidak ada seseorang yang benar benar hidup tanpa masalah. dengarkan baik baik yang akan kusampaikan karna aku lihat kau adalah pekerja muda yang baik.

Aku akan mengatakanya sekali lagi bahwa bekerja merupakan kegiatan yang tidak menyenangkan. Mungkin inilah alasan kenapa aku selalu menganggap bahwa saat bekerja aku sedang menjual produk bernama AKU. Ya, aku menjual diriku sendiri, dan mereka dengan senang hati akan membeli produk bernama aku. Sungguh jika aku mencintai pekerjaan ini, aku akan menghasilkan lembaran uang yang begitu banyak. Seperti yang kukatakan, aku tidak akan heran jika seseorang akan memuja dan memujiku, ini adalah salah satu bagian dari keistemawaanku.

Walau dengan keistemawaan kumiliki, terkadang tidak semua berjalan dengan lancar. Masalahnya ada pada mereka orang-orang yang ingin menjatuhkan posisiku. Aku benar- benar heran kepada pegawai muda itu, mereka tidak pernah membiarkan aku tua dengan membawa uang pensiun di tanganku. Mereka seperti pemburu dan aku adalah mangsa yang siap dihempaskan dengan semangat muda yang mereka miliki.

Hampir setiap Pegawai muda selalu mempunyai ambisi dan keyakinan yang berlimpah, sesuatu yang dia pikir hanya merekalah yang memilikinya. Pegawai muda selalu beranggapan bahwa aku tidak mempunyai sifat sifat seperti mereka. Owh, sungguh mereka akan menyesal jika aku menunjukan semangat muda yang aku miliki. Jika aku bisa memilih pegawai muda yang paling menggangu itu adalah salah satu bawahan bernama Deri. Pegawai muda ini selalu mengganguku, membuat pekerjaan yang aku miliki berantakan dan selalu meminta haknya dengan berlebihan. Sungguh aku membenci mereka yang memberontak.

Harus kuakui Deri sebenarnya adalah pegawai yang rajin dan bekerja keras, memiliki sopan santun dan kelembutan. Tetapi tidak saat berhadapan denganku, dia menghilangkan beberapa sikap yang dia berikan kepada setiap orang. Sepertinya Deri membenciku, karena aku bisa membacanya lebih jauh, Aku mengetahui bahwa dia tidak benar-benar memiliki kecintaan terhadap pekerjaannya, dia mirip sepertiku saat muda, hampir mirip tapi tanpa keistimewaan. Jika ada satu hal yang benar-benar menyatukan aku dengan Deri, itu semua terjadi karena perintah atasan yang tidak bisa kami tolak, kami telah di beli dengan harga yang pantas untuk bekerja sama.

Walau di atas kertas, hasil pekerjaan yang kami lakukan dapat dikatakan baik. Tetapi didalam prosesnya Deri selalu mencari kelemahan dan kesalahan yang mungkin aku lakukan. Dia ingin mengambil posisiku dan tak pernah membiarkan aku berada di posisi nyaman selamanya. Deri seperti pemacu dan pemimpin koalisi pembenci untuk diriku. Sungguh sangat lucu membayangkan usaha seperti apa yang telah deri lakukan, tapi apa kau tau, yang paling lucu mengenai Deri adalah kenyataan bahwa dia tidak pernah benar benar berani menjatuhkanku. Dia terpaksa menunduk didepanku.

Deri memang orang yang menggangu, menciptakan isu, kesalahan dan kebodohan yang ku lakukan sebagai informasi untuk orang-orang dikantorku. Dia melakukan tepat dibelakang, seperti seorang anak yang mencuri di dompet Ibunya. Sebagai Ibu, aku tidak pernah membalas perlakuan Deri secara berlebihan, aku membiarkan setiap kebencian melekat di dirinya. Jika tidak ada Deri, mungkin aku akan kehilangan sesuatu yang berharga. Kau tau, Rasa nyaman bisa menghilangkan tujuanku dan membuatku menjadi orang yang amnesia.

Terkadang aku bertanya, apa aku harus berterima kasih atas kedatangan Deri?. Memberikan dia hadiah di saat saat terakhir karirku. Aku akan mengajukan namanya untuk menggantikan jabatanku, memberikan posisi yang dia inginkan. Aku bisa membayangkan bagaimana dia akan tersenyum dan membayangkan bagaimana dia akan terkagum saat mengetahui bahwa akulah yang mempromosikannya. Sungguh aku benar-benar ingin melakukannya, kau tunggu saja Deri aku akan mengabulkan permintaanmu.

Aku memang bisa mengabulkan permintaan Deri, tetapi tidak permintaan putriku yang bernama Rona. Aku tidak bisa mengabulkan permintaanya agar aku bisa memberikan sedikit waktu bersamanya. Saat itu dia masih terlalu kecil dan belum mengetahui perasaan yang terpendam di dalam hatiku. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi kepada gadis kecilku, mungkin itulah alasanku menulis cerita ini, agar gadis kecilku bisa memahami, bisa mengerti tentang ayahnya. Aku harap kau bisa menyampaikannya.

Pekerjaan bukan hal yang mudah untuk dijalani, aku ingin setidaknya seseorang memahami dan belajar dari ceritaku. Bekerja memang menghasilkan uang tapi kita tidak boleh lupa, jika ada beberapa hal yang harus kita ingat terkait dengan tujuan dan maksud dari kita bekerja. Aku tidak ingin kalian mengukur segala hal dengan jabatan dan materi, ada hal-hal lain yang bisa membuat kita lebih bersahaja, sebuah kepuasaan yang tersimpan saat kita bekerja.

Ku akui diumurku yang menyentuh 50 tahun, aku bukanlah seorang pekerja yang baik. Semua karena aku telah memasrahkan beberapa hal yang tersimpan didalam diriku. Aku tidak mengatakan bahwa aku membuangnya, tapi lebih tepatnya aku tidak bisa menunjukannya. Aku berpasrah dengan peranku sebagai seorang yang dewasa dan bijaksana. Aku tidak pernah mengerti sejak kapan penilaian seseorang menjadi begitu penting, dan sejak kapan aku menyikapi keadaan dengan cara seperti ini.

Secara perlahan ketika kau dewasa dan mulai berumur, beberapa orang mengatakan bahwa kau telah tua. Tapi apa kau percaya bahwa dengan menjadi tua kita harus meningalkan beberapa hal yang tersimpan sejak dahulu?. Kuakui beberapa orang memaksaku untuk bertindak lebih dewasa dan bersikap lebih dingin kepada beberapa orang. Mereka menganggapku dewasa dan melupakan kenyataan bahwa sesunguhnya aku tidak pernah tumbuh menjadi orang yang mereka inginkan. Kedewasaan ku telah berhenti sejak lama, yang mereka temui hanyalah cangkak yang melindungiku, aku benar-benar anak kecil yang berumur 10 tahun.

Semakin berumur, kita semakin malu mengakui bahwa kita tidak pernah bertambah dewasa. Apa sebenarnya arti kedewasan? Apa kau bisa menjelaskannya secara detail, apakah kedewasaan sebenarnya adalah cangkak yang melindungi kita diantara cangkak-cangkak lainnya. Aku tidak pernah mengerti apa konsep dan penilaian seseorang agar terlihat lebih dewasa, tapi percayalah kau akan bertemu dengan mereka, mereka yang kau anggap tua, mereka yang kau anggap telah berumur dan mereka yang memaksamu memenuhi standar dewasa.

Aku tidak pernah setuju jika umur menjadi patokan-patokan dalam bersikap, menjadi patokan untuk berpikir dan menjadi sebuah batasan untukku bermimpi. Umur bukanlah masalah karena aku tidak pernah merasa ada yang berubah saat umurku bertambah, aku tidak pernah takut saat diriku bertambah tua, percayalah dan Jika ada hal yang membuatku takut adalah kenyataan bahwa kita hidup dengan umur yang terbatas. Suata saat nanti, mereka yang kita kasihi akan pergi, seperti orangtuaku mereka pergi lebih dulu, jauh lebih dulu.

Tidak, kau telah membawaku sedikit lebih jauh. Aku tidak ingin menceritakanya tentang kedua orangtuaku. Aku belum siap, ini terlalu jauh dan sepertinya aku harus berhenti sampai disini. Sebentar lagi mereka akan datang lebih baik kita berhenti sampai disini. Kuharap kau tidak bosan mendengar ceritaku selanjutnya karena nanti kita akan mundur ke beberapa tahun yang lalu.

Jakarta, 3 Juli 2018

Advertisements

3 thoughts on “BAB II ROBERT : Bekerja

  1. Drama yang biasa terjadi disekitar kita…

    Like

      1. Mungkin maksudnya “drama”. Jenis lain dari “tragedi” dsj.

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close