ANTO BAB III : Dokter Ben

Pagi itu mentari bersinar terang, memancarkan warna kuning cerah yang memaksa Anto sesekali menutup matanya. Sambil duduk Anto menatap cahaya tersebut, membiarkan sinar mentari menyinari dirinya. Seakan-akan Anto sedang menyucikan diri dari segala dosa yang melekat ditubuhnya. Anto memang membutuhkan rasa seperti ini, sesuatu yang menyilaukan dan mempesona yang membuatnya terlupa akan dunia.

Menuju siang, cahaya mentari semakin cerah, ini membuat Anto terdiam dan memahami keindahan yang di berikan Tuhan. Anto berpikir “Bagaimana bisa kita menduakan keindahan yang diciptakan tuhan, bahkan membandingkannya dengan keindahan lain”. Setelah merasa puas menikmati sinar mentari, Anto kembali masuk kedalam rumahnya, dia merebahkan badannya diatas kasur mencoba bertemu dengan rasa kantuknya.

Terlentang di atas kasur, membuat Anto melihat langit langit di atas kamarnya. Sesekali Anto memejamkan matanya mencoba terlelap dan tertidur. Hal ini membuatnya teringat akan usahanya untuk bertemu dengan Peri Sasa. Berulang-ulang kali Anto mencoba tetapi berulang-ulang kali juga Anto gagal memasuki dunia Peri. Kesempatan Anto untuk bertemu Peri Sasa mungkin sudah habis dan tak tersisa. Penyesalannya kepada para peri telah mendekam didalam dadanya.

Anto tetap terlelap, tetapi rasa kantuk tidak kunjung datang menghampirinya. Ini memaksa Anto untuk bermain kata-kata dengan pikirannya. Cukup lama Anto berdialog dengan dirinya sendiri, bermain dengan pikirannnya. Tak terasa waktu telah menunjukan pukul 14.00. Sesuai rencana Anto akan pergi hari ini, dia akan berkunjung ke rumah Dokter Ben.

Dokter Ben adalah seorang Dokter psikolog di salah satu rumah sakit, memiliki tubuh kurus, rambut cepak dan muka beler yang membuat wajahnya terlihat mengantuk. Wajahnya merupakan hal yang selalu Anto tertawakan, selalu ada keseruan yang terjadi disaat mereka bertemu. Dokter Ben merupakan panutan Anto seperti seorang Ayah Tiri angkatnya. Dengan mengenal Dokter Ben, Anto bisa bertemu dengan bermacam-macam orang dan juga makhluk di “Dunia Semesta’.

**

Anto mulai menaiki mobilnya, memanaskannya dan menjalankan mobilnya menuju rumah Dokter Ben. Cukup lama Anto menyetir, melewati macetnya jalanan Ibu kota yang membuat dia terbengong-bengong, kemacetan selalu membosankan untuknya. Hampir 1 jam setelah kebengongan yang panjang, akhirnya Anto tiba di rumah tua milik Dokter Ben. Rumah dokter Ben memiliki cat dinding lucu berwarna kuning, memiliki bentuk rumah yang bundar mengkerucut, dan jendela berwarna gelap dengan bermacam-macam sticker kepedulian sosial. Sebuah rumah yang unik, apalagi jika melihat sticker sosial yang di tempel di jendela, pasti Tetangga dokter Ben terkagum-kagum melihat kepedulian yang tergambar dari rumahnya.

Anto memakirkan mobilnya di depan rumah dokter Ben, masuk kedalam halaman dan berdiri didepan pintu, mengetuk-ngetuk pintu sambil memanggil nama Dokter Ben. Tak lama Anto mengetuk dan memanggil, akhirnya Dokter Ben mendengar ketukan dan namanya yang terpanggil. Kini pintu rumah Dokter Ben telah terbuka, terdengar suara ajakan untuk Anto “Silahkan, masuk kedalam,”.

Setiap Anto datang berkunjung, Dokter Ben selalu terlihat senang. Bukan hanya Anto akan memberinya uang tapi Anto juga memberinya sebuah cerita unik mengenai pengalamannya di dunia Semesta. Pengalaman yang disampaikan anto nantinya akan di tambahkan dengan cerita unik milik Dokter Ben. Pembicaraan diantara mereka merupakan perpaduan dan perputaran dari cerita-cerita unik yang anto alami, Anto menceritakan dunia Semesta dan Dokter Ben mananggapinya.

Hubungan Anto dan Dokter Ben sebenarnya tidak terlalu rumit, percis seperti hubungan pasien dan seorang dokter. Jika ada yang membuat hubungan mereka special adalah kesan pertama yang mereka miliki. Sejak keduanya bertemu, Anto dan Dokter Ben dapat merasakan bahwa dirinya sama-sama unik. Jika diingat kembali, Awal pertemuan mereka dimulai saat Anto pergi ke sebuah rumah sakit. Saat itu Anto ingin menceritakan dirinya kepada seseorang. Dan kebetulan orang itu adalah Dokter Ben, seorang Dokter terkenal di rumah sakit.

Dokter Ben terkenal bukan karna kehebatan dan kemampuannya, dia tidak tergolong sebagai psikolog yang hebat dan pandai dalam membaca pasien. Dokter Ben lebih terkenal akan keramahan dan keanehannya yang dimilikinya, hal ini sudah diketahui seluruh Pegawai Rumah Sakit. Hampir setiap orang di Rumah Sakit menyukai Dokter Ben, perilakunya bisa membuat orang-orang tertawa seketika.

Pertemuan mereka terjadi kurang lebih 1 tahun yang lalu. Saat itu Anto mendaftarkan dirinya sebagai pasien di sebuah Rumah Sakit, mencantumkan namanya sebagai seorang pasien. Anto pergi kerumah sakit untuk menemui seorang dokter, dia ingin menceritakan dirinya, sedikit berkonsultasi. setelah menyelesaikan adminstrasi, Seorang suster datang dan mengantarnya, menuju sebuah ruangan. Kini Anto berada di depan pintu ruangan, membaca papan nama bertuliskan “Dr. Ben Alkenline”, sambil cekikikan suster tersebut mempersilahkan Anto masuk kedalam ruangan “Dokter yang Aneh telah menunggu, ” Kata Suster .

Melihat isi ruangan yang bertuliskan “Dr. Ben Alkenline”, membuat Anto terpukau dan menyipitkan matanya. Semua karena barang-barang kelap-kelip yang tergantung diatas ruangan, cahaya kelap-kelip itu membuat mata Anto berkedip-kedip. Melihat Anto yang mengedipkan matanya, Dokter Ben berinisiatif untuk mengajak Anto berjabat tangan. Dokter Ben mengulurkan tangannya, sambil tersenyum mengatakan “Selamat datang Anto”.

Dokter Ben mempersilahkan anto untuk duduk dan tertidur di atas sofa empuk berwarna emas. Dia akan memulai pekerjaannya sebagai seorang dokter.

“Perkenalkan namaku Dokter Ben, Jadi apa masalahmu?” Kata dokter Ben

“Namaku anto senang berkenalan denganmu, Sebenarnya tidak ada masalah dalam hidupku, aku hanya merasa hampa, seperti tidak merasakan apa-apa atau jika mengikuti kata orang “Aku mati rasa”. Jika kau menanyakan soal permasalahan maka aku bisa menceritakan masalah-masalahku yang terdahulu. Ya sebuah perceraian, pertengkaran antara kedua orang tuaku, Aku baik-baik saja Dok”.

Dokter Ben menganguk sambil melihat wajah Anto. Tetapi Tatapan dokter Ben mebuat anto sedikit risih dan terganggung. Dokter Ben kini mulai menulis, sepertinya dia sudah memulai sesuatu yang disebut diagnosa.

“Baik, jika kau baik-baik saja, untuk apa kau kesini?. Lebih baik kau berikan saja uangmu ke panti-panti yang membutuhkan. Semua akan percuma jika kau tidak mau menceritakan masalahmu kepadaku” Kata dokter Ben

Anto terdiam sesaat, mendengar omongan dan nada bicara yang keluar dari mulu Dokter Ben. Anto berpikir apakah seorang psikolog ada untuk orang-orang bermasalah, ini membuatnya tersinggung karena dia datang hanya untuk bercerita. Apalagi pernyataan yang disampaikan dokter Ben tidak terlalu penting. Semua telah terjawab ketika Anto datang ke Rumah Sakit.

“Dok, Aku tidak bisa menceritakan masalahku. Tetapi aku bisa menceritakan apa yang kurasakan akhir-akhir ini. Berhari-hari yang lalu, aku selalu bermimpi hidup dalam terowongan, sendirian dan menjadi hitam. Aku ingin melupakan mimpi tersebut, mungkin aku membutuhkan sesuatu yang bergejolak, sesuatu yang membuatku hidup kembali. Jika kau mempunyai solusi katakan saja, aku tidak seburuk yang kau pikirkan.” Kata anto

“Tentu, kau tidak terlalu buruk. jika aku mempunyai solusi untuk perasaanmu yang mati itu, kusarankan kau bermain dengan cinta, ya sebuah cinta” Kata dokter Ben, bersemangat.

“Cinta, aku memang memikirkan hal tersebut, tapi untuk saat ini aku sedang menghindari sebuah hubungan. Aku ingin merasakan sesuatu yang lain, sesuatu yang berbeda, dengan nama yang berbeda dan kalo bisa itu menyerupai cinta,”

“Jadi kau tidak ingin cinta? Dengar, saat ini orang-orang senang bercerita tentang cinta, anak kecil saja menyanyikan cinta, para remaja tanggung di buat menangis karna cinta, jangan-jangan kau ini orang tua, yang mengenal nafsu dari cinta Haha”

“Haha kau lucu,” kata Anto “Dok saat ini, semua orang menyerukan Cinta, Cinta dan Cinta. Aku bosan mendengarnya, memang aku ini apa? Aku tidak mau terpaku seperti mereka, mendesah-desah karna cinta”

“Iya benar, mereka memang mendesah. Tapi Semua berawal dari cinta, Cinta, Cinta dan Cinta. Sudahlah jangan diperpanjang, mungkin kau harus mencari sebuah pasion, jika kau memilikinya, kau bisa bercerita. Mungkin aku bisa membantu?” Kata dokter Ben

Mendengar kata Pasion, membuat Anto berpikir jauh kebelakang, dia mencoba mengingat-ingat tentang dirinya. Anto mulai berpikir jika Pasion mungkin jawaban yang tepat. Tapi apa pasion yang cocok untuk dirinya? Untuk seseorang seperti dirinya.

Melihat Anto yang terdiam, Dokter Ben kembali berinisiatif melancarkan pertanyaan baru.

“kau harus mencoba sesuatu yang baru?,”

“Sesuatu yang baru? Maksudmu menggunakan pakaian nyentrik seperti mu, menggunakan sepatu berwarna pink, topi pelukis, gigi berbehel emas, dan cincin beserta jas kuning menterang itu, hahaha”

“Tentu, kau bisa mencobanya?. Mungkin kau akan lebih memahamiku, kau tidak tau perasaanku saat menggunakan pakaian-pakaian ini. Ada sebuah kebahagian dan harapan saat aku mengenakannya. Lebih baik kau mencobanya, sehingga kau tidak menjudge sesuatu yang tak kau tau.” Jawab dokter Ben, seakan-akan telah memenangakan percakapan.

Melihat raut wajah dokter Ben yang merasa menang, membuat Anto tertawa. dia tidak mengira bahwa psikolog mempunyai sifat seperti anak kecil, dan obrolan konsultasinya bisa mengarah kepada baju-baju yang dikenakan Dokter Ben. Awalnya Anto mengira seorang psikolog akan memberinya sebuah motivasi dan pertanyaan-pertanyaan untuk orang- orang bermasalah, pertanyaan menyudutkan. Tapi melihat tingkah laku Dokter ben yang merasa menang,, membuat Anto berpikir bahwa Dokter Ben adalah orang unik yang dapat mengerti dirinya.

“Baik, mungkin lain kali aku akan mencobanya, tapi apa kau bisa memberikan aku pilihan.”

“Aku tidak mempunyai pilihan, tapi apa kau mempunyai keinginan lain? mungkin kau hanya ingin di dengarkan, jika iya maka aku siap untuk mendengarkan” kata Dokter Ben

“Betul, mungkin aku ingin di dengarkan. Tapi jika ada hal yang mambuatku hidup itu adalah sebuah mimpi. Jika aku bisa bermimpi menjadi seorang raja yang menangkap Penyihir dan raksasa mungkin aku akan merasa hidup. Sebuah peran baru bisa membuatku lebih hidup. Jika kau bisa membantu ku bermimpi, mungkin itulah solusinya”

“Hahaha, tentu bermimpi adalah hal yang mudah. Dengarkan instruksi ini baik-baik, nanti malam tepat saat kau ingin tertidur, Pejamkanlah kedua matamu, hitunglah sampai 10 detik, dan bayangkan dirimu masuk ke dalam sebuah terowongan panjang dan gelap, bayangkan kau seperti cahaya yang berlari menuju ujung terowongan. Setelah cukup lama kau mengikuti terowongan mungkin sekitar 2 menit, bukalah kembali matamu dan Pejamkan kembali, sekarang cobalah berbicara pada dirimu dan inginmu, katakan bahwa kau ingin keluar dari dunia ini. Setelah mengatakannya kau harus kembali membayangkan terowongan dan menelusuri terowongan tersebut. terus kau ikuti terowongan tersebut, sampai kau melihat cahaya menyilaukan. Cahaya itu adalah tanda bahwa kau telah sampai, saat itu kau akan berada di dunia imajinasi.”

Penjelasan dokter Ben membuat Anto terpukau. Seakan-seakan dia sedang berbicara dengan orang gila bukan lagi dengan seorang psikolog. Cukup lama terdiam, Anto mulai menyadarkan dirinya dia berkata “Apakah itu mungkin? terdengar seperti Lelucon”

“Ini dunia mimpi!, seharusnya kau percaya” Kata dokter Ben “bukannya kau sudah melihat dandananku, aku adalah seorang fashion!. Kau hanya harus percaya!, ini bukan omong kosong atau sebuah kebohongan.

Anto merasa bahwa arah pembicaraan mereka semakin tak berarah. Pembicaraan ini semakin tak jelas, karna dunia yang dikatakan oleh dokter Ben belum pernah dia rasakan. Walau begitu, Anto juga merasakan sesuatu dari pembicarannya dengan Dokter Ben. Dia merasa kagum kepada kemampuan Dokter Ben untuk menikmati segala hal tentang dirinya, tidak ada keraguan saat Dokter Ben menjelaskan tentang cara untuk pergi ke dunia mimpi.

Perbincangannya dengan Dokter Ben, membuat Anto mengerti jika Dokter Ben tidak pernah merasa malu atas apa yang dilakukannya. Bahkan dokter Ben tidak malu menggunakan pakaian norak, dan menghiasi ruangannya dengan barang-barang yang berkelip. Dokter ben seperti menciptakan dunia baru untuk dirinya sendiri.

“Oke, aku telah memikirkanya. Sepertinya aku akan mencoba caramu untuk bermimpi. Kuharap kau mempunyai obat untuk membantuku, setidaknya membantuku untuk tertidur”

“Tentu, orang sakit tanpa obat terdengar konyol bagiku. Tenang, aku mempunyai pil yang dapat membantumu, makanlah pil ini saat kau merasa gelisah dan khawatir. Mimpi tidak akan terjadi jika kau terus terbangun jadi makan Pil ini dan tidurlah” kata dokter ben

“Baik, terima kasih. Senang bertemu denganmu dok” kata Anto, sambil mengambil obat dari tangan Dokter Ben.

“Tentu, aku juga senang bertemu denganmu. jika kau kembali, kau bisa menceritakan semua hal kepadaku, termasuk mimpi-mimpi yang terjadi nanti. Ingat, tidak boleh ada rahasia diantara kita berdua, jika kau menyimpan rahasia untuk apa kau membayarku. Hahaha” kata dokter ben

Tawa Dokter Ben terdengar kencang dan memenuhi ruangan. Ini membuat Anto ikut tertawa, suara tawa mereka, kini terdengar sampai diluar ruangan. setelah berhenti tertawa, mereka melanjutkan percakapan mereka dengan obrolan ringan. Obrolan ringan diantara mereka tersu berlanjut sampai keduanya memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan.

Untuk waktu yang lama, akhirnya Anto dapat tertawa dengan lepas. Kini Anto melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Dokter Ben. Membawa sebuah pemahaman, kenapa orang-orang mengatakan Dokter Ben sebagai orang yang aneh, Anto pun menganggap Dokter Ben sebagai orang yang aneh. Keanehan dokter Ben memang membuat Anto bingung tetapi kemampuan Dokter Ben menerima keanehannya adalah sesuatu yang patut Anto apresiasi.

Bagi Anto, saat ini kehidupan telah menjadi hal yang serius Beberapa orang tidak bisa menerima keanehan yang dimiliki seseorang. Semua orang dituntut mempunyai kesamaan, mempunyai kemampuan yang sama, dan kepribadian yang sama. Mereka dipaksa untuk memiliki cara hidup yang sama, pandangan yang sama dan tujuan hidup yang sama. Saat ini orang-orang terjebak pada tokoh-tokoh besar di masa lalu, menyerupainya dan melupakan keunikan (Keanehan) yang mereka miliki. Mereka melupakan hal yang seharusnya tidak dilupakan, Semua terpaku akan nilai, sampai lupa bahwa nilai 100 semasa sekolah tak pernah membuatnya bahagia, tidak di dunia bahkan di surga. Semua orang terlalu sibuk untuk menilai, melewati batasannya untuk menjadi sempurna.

Jakarta, 5 Juli 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close