BAB III ROBERT : OVEL

Kita bertemu lagi, kau masih duduk di bangku yang sama. Dengan raut wajah yang memintaku untuk bercerita, seakan-akan kita akan kembali dengan mesin waktu yang telah aku buat. Sesuai janji, kita akan kembali ke beberapa tahun yang lalu, aku masih berstatus mahasiswa dan pekerja part time di sebuah kedai kopi.

Sekarang berhentilah menatapku, karena aku tak akan berbohong kali ini. Aku telah membuatkanmu susu kental manis, itu kesukaanmu. Ingat, Aku memperlukan waktu dan ketenangan untuk membangkitkan sebuah nostalgia yang tersimpan dikepalaku. Kau bisa menunggu sebentar bukan, sambil meminum susu yang tersaji didepanmu. aku akan mulai bercerita, sesaat lagi setelah aku mengingatnya.

**

Mungkin sekitar 28 tahun yang lalu, tepat disaat aku berumur 21 tahun. Saat itu, Aku masih dalam tahap akhir perkuliahaan dan sedang disibukan oleh jadwal mangung dan bermain yang padat. Aku dan 3 orang lainya di sibukan dengan sebuah pekerjaan untuk menyanyikan lagu dari pangung ke pangung. Untuk mengejar panggung tertinggi, kami tidak pernah lelah untuk berdiri dan bernyanyi dipanggung yang sama. Aku bergabung dengan band di lingkungan kampus.

Band yang aku naungi, dibentuk oleh sahabatku yang bernama Jimmi. Di band tersebut Jimmi menempati posisi sebagai vokalis. Saat itu, aku tidak bisa mendapatkan posisi sentral yang sangat aku impikan, Aku berposisi sebagai pemain gitar, Luki sebagai pemain bas dan Toto sebagai pemain Drum. Kami berempat bertemu dan bersatu karena kecintaan kami terhadap musik, kami menamai band kami dengan sebutan “OVEL”. Sangat jelas jika kami menamainya karena Cinta, kami hanya membalikan kata-kata dari Cinta.

Kecintaan kami terhadap musik bukanlah kualitas yang kami tonjolkan, Permainan kami diatas panggunglah yang menjadi kualitas kecintaan kami terhadap musik. Kemampuan kami membawakan lagu telah membawa kami ke beberapa tempat bahkan beberapa orang bersedia mengundang band kami ke acara yang mereka miliki. Ini semua karena jejaring sosial yang dimiliki Jimmi, sisanya adalah usaha yang kami lakukan untuk memenuhi kenginan penonton. Saat itu Aku berperan penting untuk membaca keinginanan penonton.

Sebagai mahasiswa psikologi, tidak mudah menghentikan tugas pribadiku untuk membaca orang-orang di sekitarku. Kemampuan untuk membaca orang-orang, telah membuatku pintar dalam membaca situasi. Jimmi sudah mengetahui kemampuanku, sehingga dia menugaskanku untuk menentukan lagu apa yang akan kami bawakan di setiap panggung. Harus kuakui diantara kami berempat hanya Jimmi yang bisa aku perhitungkan. Sepertinya dia mempunyai kemampuan sepertiku.

Dengan jejaring sosial dan kemampuan yang kami miliki, Band “Ovel” menjadi terkenal dalam kurun waktu yang cepat, tapi kefamousan yang kami rasakan hanya terjadi di kota bernama Bogor. Jimmi menjadi alasan kenapa band bernama Ovel ini bisa terkenal. Dia selalu mondar-mandir, menghubungi kenalannya untuk memberikan kami sebuah kesempatan bernyanyi. Dia telah merencanakan secara matang, kemana band ini akan berakhir, bercita-cita untuk membawa kami kepuncak yang lebih tinggi.

Jimmi merupakan anak seorang pengusaha kerupuk di kota Bogor, sejak kecil sang ayah mengajarkanya untuk menjadi seorang ahli waris perusahaan. Tak heran jika dia mempunyai pengetahuan dan kemampuan berbahasa yang baik. Sebelum membentuk band ini, biasanya dia menghabiskan waktunya dengan hinar-binar di setiap malam. Tapi kini dia menghabiskan waktunya bersama kami, “Menikmati musik,” itu yang selalu dia katakan kepadaku.

Jika tak ada Jimmi maka tak ada band bernama “OVEL,”. Dia menemukan kami dari ribuan mahasiswa pencinta musik, mengajak kami satu persatu dan menggabungkan kami menjadi sebuah band.Jimmi memberikan kami sebuah motivasi dan gambaran tentang pertanyaan kemana band ini akan berjalan. Seorang pemimpin yang baik itulah yang bisa kukatakan tentang Jimmi, walau saat itu aku tak pernah tau, apa yang dia harapakan dari band bernama OVEL.

Dengan motivasi yang di berikan jimmi, kami (terkecuali aku) terus berlatih dan berlatih agar menjadi lebih baik. Menciptakan lagu baru dan berpindah dari panggung ke panggung. Kami tidak pernah menanyakan tentang uang, karna Jimmy tidak pernah menarifkan harga yang mahal untuk band kami. Semua benar-benar diatur oleh Jimmy bahkan dia yang menentukan jika aku tidak bisa menjadi vokalis di band ini, dia lebih menyukaiku saat bermain gitar, dia menyukai ketika aku berada di sebelah kanannya.

Jimmy pintar dalam melakukan pekerjaan yang disebut dengan memanejemen manusia. Dia tidak memilihku hanya karena kemahiranku dalam bermain gitar. Dia mengetahui, bahwa aku mempunyai kemampuan untuk menciptakan lagu. Setiap lagu yang kami miliki adalah seni dari apa yang kurasakan, aku memberikannya secara gratis kepada mereka. Ini satu-satunya cara untukku berkontribusi, diantara kami hanya akulah yang tidak pernah menggelontorkan uang.

Persoalan selalu ada ketika sebuah band terbentuk, apalagi jika band tersebut mempunyai tujuan untuk berada di panggung yang lebih tinggi. Tidak berbeda dari kebanyakan Band, persoalan terbesar yang kami punya adalah masalah keuangan. Jimmy memang mendanai kami, begitu juga Luki dan Toto tetapi aku sama sekali tidak pernah mengeluarkan uang untuk band ini. Mereka mengetahui kehidupanku yang pas-pasan dan terlalu malu untuk menagihku sejumlah uang, terkadang aku merasa diremehkan oleh mereka, aku bisa mengetahuinya tepat saat mereka mengeluarkan uang.

Tanpa uang, Aku dipaksa untuk berpikir keras, berusaha menciptakan lagu yang dapat menggugah penonton. Saat satu lagu selesai, mereka bertiga akan datang dan bersikap sebagai seorang juri yang menilaiku. Aku tidak pernah takut saat dinilai orang awam seperti mereka, biasanya mereka bertiga akan menyukai lagu yang kuciptakan. Bahkan terkadang mereka menari bahagia, seakan-akan mereka bisa terkenal dengan laguku. Hanya jimmi yang terkadang terdiam, sepertinya dia terharu akan lagu yang aku buat.

Selama aku bergabung dengan Band OVEL, sudah cukup banyak lagu yang telah aku ciptakan. Aku selalu membuat cerita di setiap lagu yang kuciptakan, sebuah cerita epic yang membuat mereka bertiga menganguk. “Aku sangat suka,”, “Lagu yang bagus,” , “Seperti yang kuharapkan,” adalah pujian yang mereka ucapkan untuk ku.

**

Di tahun pertama band OVEL, Semua berjalan dengan lancar, tawaran untuk bernyanyi diatas panggung selalu ada, setidaknya 2 kali dalam sebulan kami pergi kebeberapa tempat. Dengan jejaring yang Jimmi miliki, lagu-lagu kami (lagu-laguku) mulai dinyanyikan oleh beberapa orang dikota. Kami menjadi artis kecil-kecilan di kota bogor, aku yakin beberapa orang mengenal kami terutama Jimmi.

Kesuksesan kecil-kecilan, tidak serta-merta memmbuatku bahagia. Malahan rasa iriku terhadap posisi Jimmy semakin kuat, apalagi saat aku mendengar mereka bernyanyi menirukan suara Jimmy. Aku benar benar iri, mereka tidak tau, cepat atau lambat akulah yang akan memegang kekuasaan dalam band ini, atau setidaknya aku bisa membuat band ini bubar seketika.

Jimmi berhasil membuat band ini terkenal, tapi akulah yang memenuhi standart kenginginan para pendengar musik. Rahasianya adalah lirik-lirikku yang mengetarkan dan berbicara tentang keputusasaan. Mereka menyanyikan lagu-laguku seakan-akan mereka juga memiliki keputusasaan tersebut. Berbeda dengan kebahagian, Keputusasaan merebak dengan cepat dikalangan masyarakat, menancap disetiap kerongkongan.

Semakin banyak panggung yang kami ikuti, maka semakin erat juga hubungan diantara kami berempat. Semua berjalan dengan baik, bahkan kini mereka bertiga tidak perlu menggelontorkan banyak uang. Satu-satunya yang dirugikan adalah aku yang mencari sebuah keputusasaan yang merebak di masyarakat. Memenuhi standart pendengar lama-kelamaan membuatku gila. setiap bulan aku terpaksa berkeliling kota bogor, terkadang aku keluar dari kota bogor atau pergi ke atas gunung untuk bersatu bersama alam. Aku mencari secercah inspirasi, sebuah kata-kata yang akan kupersembahkan kepada kalian.

saat mencari inspirasi, aku selalu melibatkan orang-orang yang berada disekitarku. Kuakui berteman dengan Luki membuat segalanya sedikit lebih mudah. Luki adalah remaja biasa, sama seperti Toto, mereka berdua berasal dari keluarga yang bisa dikatakan “Tidak Kaya dan Tidak Miskin”. Kalaupun ada perbedaan diantara Luki dan Toto, itu adalah kata-kata yang keluar dari mulutnya. Luki senang menceritakan setiap hal yang terjadi dikota bogor bahkan dikota-kota lainya.

Dari Luki, aku mendapat banyak inspirasi, Luki sering bercerita kepadaku tentang setiap kejadian yang terjadi di masyarakat. Pernah suatu ketika dia menceritakan kepadaku tentang kemiskinan yang merebak di kota Bogor. Darinya aku terinspirasi untuk menciptakan lagu tentang kemiskinan dialami seorang anak kecil, didalam liriknya aku mempertanyakan maksud dan tujuan dari setiap belas kasih yang di berikan orang-orang, entah itu pengusiran atau pengharapan agar anak kecil itu bisa hidup lebih baik.

Sebuah kelayakan telah aku jadikan sebagai pertanyaan di kalangan masyarakat. Nilai jualnya terdapat pada keputusasaan yang anak kecil itu miliki, juga perasaan tenggang rasa yang kita miliki saat anak kecil itu beranjak dewasa. “Kemana anak kecil itu berlari, melawan waktu yang perlahan membusukan wajahnya” itu adalah sepenggal lirik yang aku buat.

Luki memberikan informasi terkait dengan keputusasaan yang merebak di masyarakat, tapi jangan pernah meremehkan peran Toto dalam karirku sebagai pencipta lagu. menurutku Toto pantas disebut sebagai jelmaan Cut Pay Kai di serial Kera Sakti. Banyak orang berkata kepadaku, “jika kau mengenal Toto maka cinta sudah termasuk didalamnya”.

Jika aku harus membahas Toto, maka aku juga harus membahas tentang seorang panglima bernama Tien Peng. Dia jatuh cinta kepada seorang Dewi bernama Chang E. Saat itu Dewi Chang E terjatuh dari bulan, panglima Tien Peng melihatnya dan mencoba menyelamatkan sang Dewi yang terjatuh. Belum sempat bertindak, ternyata seorang panglima khayangan lain telah datang menyelamatkan Dewi Chang E.

Panglima itu bernama Wu Kang, dia menyelamatkan Chang E dan membuat cinta bersemi diantara mereka. Saat itu panglima Tien Peng tidak bisa menerima cintanya, ia tidak bisa berpasrah akan cintanya terhadap Dewi Change. Dengan terpaksa penglima Tien Peng akhirnya melakukan sesuatu yang terlarang, dia memutar balikan waktu tepat disaat Dewi Chang E terjatuh dari Bulan. Dengan waktu yang berputar, dia mencoba menyelamatkan Dewi Chang E sekali lagi. tapi seperti kejadian sebelumnya, Jenderal Wu Kang lebih dahulu datang menyelamatkan Dewi Chang E.

Panglima Tien Peng tidak menyerah, dia terus -menerus memutar waktu, kembali pada saat Dewi Chang E terjatuh tetapi semua selalu berakhir dengan penyelamatan Wu Kang kepada Dewi Chang E. Akibat usahanya yang mengacak-acak roda waktu, Kaisar Langit akhirnya menghukum panglima Tien Peng. Dia harus merasakan 1000 reinkarnasi dan 1000 penderitaan cinta. “Sejak dulu beginilah Cinta, penderitaannya tiada akhir,” kata Panglima Tien Peng

Aku tidak berlebihan saat menyamakan Toto dengan Panglimal Tien Peng. Jika kau mengenal Toto, maka kau akan tau bahwa dia adalah lelaki gigih yang mempertahankan cintanya. Wanita yang dicintai Toto bernama Riri, dia mempertahankan cintanya semenjak 6 tahun yang lalu. Dia pernah berkata kepadaku “Aku hanya jatuh cinta satu kali, perempuan itu bernama Riri dari SMP sampai Kuliah, aku hanya bisa mencintainya.”

Toto telah mengungkapkan perasaannya kepada Riri, dan Riri telah mengungkapkan penolakan cintanya kepada Toto. Penolakan cinta tidak pernah membuat Toto menjadi lemah, dia tetap gigih dan berkali-kali menyatakan cintanya tanpa menyerah. Setiap malam dia selalu membuat puisi, kata kata mesra, syair-syair cinta yang tidak pernah aku tau berasal dari mana. Dia telah berteman dengan keputusasaan cintanya, sebagai lelaki, dia mencintai Riri dengan sebuah ketulusan.

Perasaan rindu, kasih sayang dan cinta yang dimiliki Toto, telah menjadi bagian dari lagu-laguku tentang penghambaan cinta. Pernah aku bertanya kepada Toto “Jika suatu saat nanti Riri mencintai laki-laki lain, hanya kesedihanlah yang tersisa dari perasaan cinta yang kau miliki?,”. Dia hanya diam menatapku dan dengan tenang mengatakan “Dari awal cintaku adalah kesedihan dan penderitan, sebuah pemujaan kepada wanita bernama Riri. Semua tidak akan berbeda jika Riri mencintai lelaki lain, aku tetap mencintainya,”.

Aku terbengong saat mendengar jawaban Toto, berpikir jika Toto adalah reinkarnasi Panglima Tien Peng yang ke- 967. Aku menyadari bahwa panglima khayangan tidak sendirian dalam mengartikan cinta sebagai penderitan. Mereka berdua mengalami penderitaan yang sama dari kecantikan yang dimiliki seorang wanita. 

Aku tidak pernah menurunkan kadar cinta Toto sejak saat itu, aku selalu memberikan like, dukungan dan semangat atas cintanya terhadap Riri. Aku tidak pernah meremehkannya dan selalu mendengar curhatanya terhadap Riri “Terbawa badai kesedihan sekalipun, cinta tetaplah cinta, aku mencintaimu” itu salah satu lirik yang aku dapatkan dari syair Toto.

Walau Luki dan Toto memberikanku inspirasi, tapi terkadang aku benci menjadi seseorang yang mengimitasi perasaan sosial yang mereka miliki. Aku meniru perasaan luki terhadap kepeduliannya akan keputusasaan masyarakat, mengimitasi perasaan Toto terhadap cintanya kepada Riri. Terkadang aku menyadari, bahwa aku terlalu banyak mengimitasi perasaan mereka.

Dengan kemampuanku membaca orang lain dan membaca situasi, secara tidak sadar aku telah melakukan imitasi yang berlebihan di dalam kehidupan sosial. Aku bertanya-bertanya siapa aku sebenarnya? Perasaan apa yang sebenarnya terpendam, kepedulian apa yang kumiliki secara utuh. Selain menyanyi, aku tidak pernah tau siapa aku.

Saat pertanyaan menyusahkan ini muncul, aku selalu memutuskan untuk pergi dari kota bogor. Mencoba bersatu dengan alam diatas pegunungan, berharap mencapai kemoksaan tanpa harus menghilang dari dunia. Ketenangan alam terkadang membisukan ku, menenangkan jiwaku. Dipuncak, aku tidak bisa mengimitasi mereka. Aku dihadapkan kepada diriku sesunguhnya.

Aku, Jimmy, Luki dan Toto. kami berempat telah menciptakan band terkenal di kota Bogor. Semakin berjalannya waktu, persoalaan uang tidak lagi menjadi hal utama. Sekarang kami (Aku) dihadapakan permasalahan baru untuk mempertahankan kualitas lagu yang kami miliki. Mereka bertiga tidak bisa lagi meremehkanku dengan materi. Sama seperti para penggemar, sekarang mereka bertiga telah jatuh pada keputusasaan dan pengharapan yang kumiliki. Aku telah mengusai band bernama OVEL.

Jakarta, 10 Juli 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close